Seorang pengamat pasar di Wall Street, seperti dikutip dari Investing, Selasa (6/1/2026), memberi catatan hati-hati. “Kami perkirakan pemulihan harga minyak masih akan berlangsung panjang. Sepanjang 2025 saja harganya sudah terjun bebas 18%, kinerja terburuk dalam lima tahun terakhir karena banjir pasokan dan permintaan yang lembek,” ujarnya.
Namun begitu, saham-saham energi langsung merespons positif di awal perdagangan. Chevron, ExxonMobil, dan ConocoPhillips terpantau menguat, menopang sektor energi secara keseluruhan.
Analis ING punya pandangan lain. Mereka melihat perdebatan kini bergeser ke implikasi perubahan rezim yang didorong AS di Venezuela. Ironisnya, ketidakpastian ini malah membuat dolar AS makin diminati sebagai safe haven.
Di sisi lain, nada Trump tetap keras. Ia bahkan mengancam serangan militer lanjutan jika pemerintahan sementara di Caracas tidak kooperatif. Ancaman itu tak hanya untuk Venezuela. Kolombia juga disorot karena dicurigai terlibat perdagangan narkoba. Kuba, menurutnya, “siap untuk jatuh”. Dan ambisinya atas Greenland demi alasan keamanan nasional AS kembali ditegaskan.
Jadi, pasar saham meroket didorong energi dan geopolitik. Tapi di balik kenaikan itu, ketegangan justru makin memanas. Wall Street mungkin senang hari ini, tapi dunia tampaknya menahan napas menunggu perkembangan berikutnya.
Artikel Terkait
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi
Analis HSBC Proyeksikan Emas Tembus USD 5.000 pada Awal 2026