Di tenda-tenda berwarna jingga bertuliskan BNPB itulah, mereka menjalani Ramadhan. Bukan di rumah dengan dinding kokoh. Ucapan selamat datang pun bukan "Marhaban ya Ramadhan", melainkan tulisan sederhana dan getir: "Hunian Darurat". Tapi, lihatlah. Justru di situlah, di tengah keterbatasan yang menyayat hati, makna berbagi yang sesungguhnya hidup dan bernafas.
Rindu yang Diubah Jadi Berkah
"Kami banyak rindu," ujar Firmadi, Kepala Dusun Lhok Pungki. Suaranya lirih.
"Biasa kami berkumpul, sekarang di tenda. Bingunglah kami bercerita, tetapi alhamdulillah kami masih aman."
Dusunnya, Lhok Pungki di Aceh Utara, mereka sebut 'dusun yang hilang'. Bencana banjir dan longsor akhir November 2025 lalu tak menyisakan apa-apa. Bukan tertimbun, tapi habis tak bersisa. Sudah hampir tiga bulan, 85 kepala keluarga bertahan di tenda. Dan di sanalah, kebiasaan lama berubah. Firmadi yang dulu biasa belanja untuk keluarganya sendiri, sekarang matanya tak bisa tidak melihat ke sebelah.
"Sekarang kalau beli apa-apa, gak bisa gak lihat tetangga sebelah. Kan nggak enak, kalau yang di sebelah nggak dibeliin," tuturnya.
Perasaan yang sama menguat di hati Halmatun Sadian. Kekeluargaan di bawah tenda jingga itu memaksa semua rasa dibagi. Susah dan senang sama-sama.
"Kalau puasa di rumah kan sahur bisa atur sendiri, goreng sendiri. Kalau di sini mana bisa? Semua sama-sama," ujar Halmatun.
Ia mengusap air mata dengan keliman hijabnya. Ingatan akan bencana dan Ramadhan tahun lalu masih terasa perih. Tapi kemudian, seulas senyum dipaksakan. Suaranya bergetar, namun tertahan oleh tawa kecil.
"Tetapi masak ramai-ramai begini seru juga," katanya.
Seolah ada aturan tak tertulis di sana: kalau tak bisa berbagi, lebih baik jangan membeli.
Artikel Terkait
Lima Lembaga Intelijen yang Membentuk Peta Kekuatan Global
TAUD Ungkap Dugaan Serangan Terorganisir Melibatkan 16 Orang terhadap Andrie Yunus
Dolar AS Melemah Didorong Kabar Perundingan Damai Israel-Lebanon
Bentrok di Halmahera Tengah Dipicu Hoaks, Bukan Konflik SARA