Ramadhan di Tenda Bencana: Solidaritas yang Tetap Hidup di Tengah Runtuhnya Rumah

- Selasa, 24 Februari 2026 | 04:45 WIB
Ramadhan di Tenda Bencana: Solidaritas yang Tetap Hidup di Tengah Runtuhnya Rumah

Di tenda-tenda berwarna jingga bertuliskan BNPB itulah, mereka menjalani Ramadhan. Bukan di rumah dengan dinding kokoh. Ucapan selamat datang pun bukan "Marhaban ya Ramadhan", melainkan tulisan sederhana dan getir: "Hunian Darurat". Tapi, lihatlah. Justru di situlah, di tengah keterbatasan yang menyayat hati, makna berbagi yang sesungguhnya hidup dan bernafas.

Warga Desa Gampong Gunci berada di kompleks hunian darurat di Sawang, Aceh Utara, Aceh, Senin (16/2/2026). Sebanyak 326 jiwa dari 85 KK telah menempati hunian darurat selama tiga bulan kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda desa tersebut pada akhir November 2025. (ANTARAFOTO/Aprillio Akbar)

Rindu yang Diubah Jadi Berkah

"Kami banyak rindu," ujar Firmadi, Kepala Dusun Lhok Pungki. Suaranya lirih.

"Biasa kami berkumpul, sekarang di tenda. Bingunglah kami bercerita, tetapi alhamdulillah kami masih aman."

Dusunnya, Lhok Pungki di Aceh Utara, mereka sebut 'dusun yang hilang'. Bencana banjir dan longsor akhir November 2025 lalu tak menyisakan apa-apa. Bukan tertimbun, tapi habis tak bersisa. Sudah hampir tiga bulan, 85 kepala keluarga bertahan di tenda. Dan di sanalah, kebiasaan lama berubah. Firmadi yang dulu biasa belanja untuk keluarganya sendiri, sekarang matanya tak bisa tidak melihat ke sebelah.

"Sekarang kalau beli apa-apa, gak bisa gak lihat tetangga sebelah. Kan nggak enak, kalau yang di sebelah nggak dibeliin," tuturnya.

Perasaan yang sama menguat di hati Halmatun Sadian. Kekeluargaan di bawah tenda jingga itu memaksa semua rasa dibagi. Susah dan senang sama-sama.

"Kalau puasa di rumah kan sahur bisa atur sendiri, goreng sendiri. Kalau di sini mana bisa? Semua sama-sama," ujar Halmatun.

Ia mengusap air mata dengan keliman hijabnya. Ingatan akan bencana dan Ramadhan tahun lalu masih terasa perih. Tapi kemudian, seulas senyum dipaksakan. Suaranya bergetar, namun tertahan oleh tawa kecil.

"Tetapi masak ramai-ramai begini seru juga," katanya.

Seolah ada aturan tak tertulis di sana: kalau tak bisa berbagi, lebih baik jangan membeli.

Warga Dusun Lhok Pungki Desa Gunci mengolah daging dalam acara tradisi meugang menjelang bulan Ramadhan 1447 H di dapur bersama hunian darurat Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Aceh, Senin (16/2/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

Peumulia Jamee di Tengah Puing

Nilai ini, peumulia jamee, sudah mengakar. Menghormati tamu adalah kewajiban. Dan tradisi itu tak luntur, bahkan ketika bencana merenggut hampir segalanya.

Pengalaman itu dirasakan langsung saat berkunjung dari tenda ke tenda. Di Lhok Pungki, kursi-kursi seadanya diatur melingkar. Makanan yang mereka masak bersama dihidangkan. Di Dusun Sarah Gala, Aceh Timur, hidangan sederhana ikan balado, tempe, dan sup menunggu. Mereka tak mau menyentuhnya sebelum tamu mulai makan.

"Ayo, berbuka. Sudah azan," ajak seorang ibu yang memimpin dapur darurat, memecah rasa sungkan kami.

Nuansa serupa terasa di tenda pengungsian Dusun Bahagia, Aceh Tamiang. Saat sahur, seorang pengungsi bernama Siti Hasanah, atau Nur Lamek, menggelar satu-satunya karpet miliknya. Di atasnya, ia hidangkan nasi, dua potong daging, dan segelas teh manis untuk tamu. Ia sendiri duduk di lantai.

"Maaf harus sempit-sempitan," ujarnya. "Karpet kami hanya satu."

Sungguh, rasa sungkan itu memenuhi kepala. Bagaimana mungkin mereka yang seharusnya menerima bantuan, justru mendahulukan kami? Melihat keraguan di wajah tamunya, Nur Lamek punya jawaban yang menenangkan.

Hidangan sahur yang dimasak oleh Siti Hasanah di hunian darurat pengungsi Desa Bundar, Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (19/2/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

"Ketika orang bersedekah untuk kami, kami juga bersedekah lagi untuk orang. Kan, itu lebih baik," katanya dengan tenang.

Perjalanan itu mengajarkan satu hal. Kemegahan hari raya tak selalu soal pesta atau baju baru. Terkadang, kemegahan itu justru lahir dari kesederhanaan yang tulus. Dari secangkir teh yang dibagi, dari sepotong lauk yang dipersilakan, di atas karpet lusuh di tenda pengungsian.

Di sanalah, di tengah segala yang hilang, kasih sayang itu tak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup, dan justru bersinar lebih terang.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar