Trauma dan Intimidasi Warnai Pembubaran Ibadah GMS Bantul, Jemaat Anak Paling Terdampak

- Selasa, 26 Mei 2026 | 10:25 WIB
Trauma dan Intimidasi Warnai Pembubaran Ibadah GMS Bantul, Jemaat Anak Paling Terdampak

Pengurus Gereja Misi Sejahtera (GMS) Bantul mengungkapkan bahwa insiden pembubaran ibadah yang viral beberapa waktu lalu meninggalkan trauma mendalam bagi para jemaat, terutama anak-anak. Pihak gereja juga menyoroti adanya dugaan tindakan intimidasi serta ancaman, baik secara fisik maupun verbal, yang dialami saat peristiwa tersebut berlangsung.

Humas GMS Pusat, Josiah Michael, menjelaskan bahwa kejadian bermula ketika puluhan orang yang mengatasnamakan laskar FJI mendatangi lokasi ibadah pada Minggu, 24 Mei, sekitar pukul 07.59 WIB. Mereka meminta agar kegiatan ibadah segera dibubarkan dengan alasan dianggap berpotensi mengganggu kerukunan umat beragama dan harmoni sosial di masyarakat. Situasi kemudian memanas hingga akhirnya ibadah terpaksa dihentikan.

“Kami sangat menyesalkan terjadinya insiden pembubaran ibadah yang diikuti dugaan tindakan intimidasi dan ancaman baik secara fisik dan verbal dari sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap saudara-saudara GMS Bantul,” ujar Josiah dalam keterangan resminya, Selasa (26/5).

Menurut Josiah, peristiwa itu tidak hanya menghentikan jalannya ibadah, tetapi juga menyisakan luka batin yang sulit hilang. “Kejadian ini menyisakan luka dan trauma pada jemaat terutama jemaat yang masih anak-anak,” ungkapnya.

Di sisi lain, Josiah menegaskan bahwa kebebasan beragama dan hak menjalankan ibadah secara damai merupakan hak asasi fundamental yang dijamin dan dilindungi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Pancasila serta Konstitusi Undang-Undang Dasar 1945. Ia menilai tindakan pembubaran yang disertai intimidasi dan kekerasan telah mencederai nilai-nilai toleransi serta keharmonisan bangsa.

“Pembatasan ibadah dengan intimidasi yang berujung pada kekerasan adalah tindakan yang mencederai nilai-nilai toleransi dan keharmonisan bangsa,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Kesbangpol Bantul, Yulius Suharta, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. Ia mengaku pihaknya sebenarnya sudah mengetahui adanya potensi penolakan terhadap kegiatan GMS sejak informasi mulai berkembang. “Kesbangpol tidak hanya pada posisi menunggu laporan, tapi dari informasi kemarin ketika berkembang akan ada penolakan terkait kegiatan GMS, kami sudah mengkoordinasikannya,” katanya saat dihubungi, Senin (25/5).

Yulius menambahkan bahwa upaya antisipasi telah dilakukan, namun pada akhirnya insiden tersebut tetap terjadi. Ia tidak merinci lebih lanjut langkah-langkah yang sudah diambil sebelumnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags