Pasien BPJS Meninggal Usai Keluhkan Antrean, Komentar Dokter dan Nakes Tuai Kecaman

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:25 WIB
Pasien BPJS Meninggal Usai Keluhkan Antrean, Komentar Dokter dan Nakes Tuai Kecaman

Seorang pasien BPJS Kesehatan bernama Yurizal Tri Chaerawan menjadi sorotan publik setelah unggahannya di media sosial memicu komentar pedas dari sejumlah dokter dan tenaga kesehatan. Polemik ini semakin memanas setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia, membuat komentar-komentar tersebut dinilai tidak berempati dan mengundang kecaman luas.

Peristiwa ini bermula pada 22 Juli 2026 ketika Yurizal mengunggah keluhannya melalui platform Threads. Dalam unggahan itu, ia mengaku telah menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap di rumah sakit. Meski menyampaikan keluhan, Yurizal tidak menyebutkan identitas rumah sakit yang dimaksud.

"8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal, dikutip Rabu (5/8/2026).

Unggahan tersebut kemudian mendapat berbagai tanggapan dari pengguna media sosial. Namun, perhatian publik justru tertuju pada sejumlah komentar yang berasal dari dokter maupun tenaga kesehatan. Beberapa komentar dinilai menyudutkan pasien, seperti "Kalau full mau dipindahkan ke mana? Mau di lantai?" dan "BPJS yang pakai banyak, otomatis yang dirawat juga banyak."

Komentar yang paling memicu kemarahan publik adalah kalimat, "Kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong." Tak hanya itu, beredar pula tangkapan layar komentar lain yang ditulis oleh seorang dokter yang menyebut pasien "haven't some brain cells". Kalimat tersebut dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap pasien dan semakin memperkeruh suasana.

Tak lama setelah unggahan itu viral, kabar meninggalnya Yurizal beredar di media sosial. Informasi tersebut membuat unggahan lama beserta tangkapan layar komentar para dokter dan tenaga kesehatan kembali menjadi perbincangan hangat. Banyak warganet mengecam komentar-komentar tersebut karena dianggap tidak mencerminkan empati dan bertentangan dengan etika profesi tenaga kesehatan.

Di tengah polemik yang berkembang, nama seorang dokter berinisial EPR ikut menjadi sorotan. Dokter tersebut disebut merupakan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) sekaligus penerima beasiswa LPDP.

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta kemudian memberikan klarifikasi. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa dokter yang ramai diperbincangkan bukan merupakan pegawai tetap rumah sakit, melainkan peserta PPDS yang sedang menjalani pendidikan. Rumah sakit juga menyatakan telah berkoordinasi dengan fakultas kedokteran untuk menindaklanjuti persoalan tersebut sesuai mekanisme yang berlaku.

Permintaan Maaf

Seiring meningkatnya tekanan publik, dokter yang bersangkutan akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengakui komentarnya tidak pantas dan menyatakan penyesalan atas kegaduhan yang terjadi. Permintaan maaf juga disampaikan oleh seorang tenaga perekam medis yang turut menjadi sorotan karena ikut memberikan komentar bernada sinis.

Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menyebut meninggalnya Yurizal disebabkan oleh lamanya menunggu ruang rawat inap. Fakta yang telah dikonfirmasi adalah Yurizal memang sempat mengunggah keluhan mengenai antrean kamar sebelum akhirnya meninggal dunia.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags