Airlangga Waspadai Dampak Ketegangan AS-Venezuela ke Perekonomian Indonesia

- Senin, 05 Januari 2026 | 17:00 WIB
Airlangga Waspadai Dampak Ketegangan AS-Venezuela ke Perekonomian Indonesia

Di tengah hiruk-pikuk politik global, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku masih terus mengawasi situasi. Fokusnya? Dampak ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela terhadap Indonesia. Menurutnya, situasi masih perlu dipantau lebih lanjut.

Hingga saat ini, gejolak signifikan pada harga minyak dunia belum terlihat. Airlangga mencermati, harga komoditas itu relatif masih rendah. "Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar 63 dolar per barel," ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga kepada para wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Senin (5/1).

Data dari Reuters seolah mengonfirmasi pengamatannya. Pada perdagangan Senin itu, harga minyak mentah Brent berjangka tercatat turun 34 sen menjadi USD 60,41 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di angka USD 56,91 per barel, atau turun 41 sen.

"Nanti kita monitor saja," tambah Airlangga, menutup pembahasan soal harga energi.

Namun begitu, bukan cuma harga minyak yang jadi perhatian. Kerja sama Indonesia dengan Venezuela juga masuk dalam radar pantauan pemerintah. Ini tak lepas dari dinamika politik yang sedang bergolak di negara produsen minyak tersebut.

Airlangga mengingatkan, hubungan AS dan Venezuela memang sudah lama memanas. Ketegangan ini berakar jauh, terutama sejak era Presiden Hugo Chavez yang melakukan nasionalisasi besar-besaran terhadap aset-aset milik perusahaan Amerika.

"Nah ini kemudian berikutnya kan sekarang dengan situasi seperti ini ya kita monitor aja seperti apa," tuturnya.

Situasi yang dimaksud tentu saja merujuk pada eskalasi terbaru. Pada Sabtu (3/1) dini hari, AS disebut melancarkan serangan ke ibu kota Venezuela, Caracas. Operasi militer itu berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS. Pemerintah Venezuela langsung menuding Amerika telah melanggar hukum internasional. Kini, kabarnya Maduro telah berada di wilayah AS.

Dengan perkembangan yang begitu cepat, pantauan ketat dari Jakarta tampaknya akan terus berlanjut. Airlangga dan timnya sepertinya akan sibuk memetakan semua kemungkinan dampaknya bagi perekonomian dalam negeri.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar