Namun begitu, bukan cuma harga minyak yang jadi perhatian. Kerja sama Indonesia dengan Venezuela juga masuk dalam radar pantauan pemerintah. Ini tak lepas dari dinamika politik yang sedang bergolak di negara produsen minyak tersebut.
Airlangga mengingatkan, hubungan AS dan Venezuela memang sudah lama memanas. Ketegangan ini berakar jauh, terutama sejak era Presiden Hugo Chavez yang melakukan nasionalisasi besar-besaran terhadap aset-aset milik perusahaan Amerika.
"Nah ini kemudian berikutnya kan sekarang dengan situasi seperti ini ya kita monitor aja seperti apa," tuturnya.
Situasi yang dimaksud tentu saja merujuk pada eskalasi terbaru. Pada Sabtu (3/1) dini hari, AS disebut melancarkan serangan ke ibu kota Venezuela, Caracas. Operasi militer itu berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS. Pemerintah Venezuela langsung menuding Amerika telah melanggar hukum internasional. Kini, kabarnya Maduro telah berada di wilayah AS.
Dengan perkembangan yang begitu cepat, pantauan ketat dari Jakarta tampaknya akan terus berlanjut. Airlangga dan timnya sepertinya akan sibuk memetakan semua kemungkinan dampaknya bagi perekonomian dalam negeri.
Artikel Terkait
Wall Street Berbelah Arah: Tekanan Trump Ancam Sektor Keuangan, Saham AI Tetap Melaju
Wall Street Bergejolak: Saham Properti Anjlok Dihantam Ancaman Trump, Teknologi Bertahan
Teknologi AI Selamatkan Nasdaq dari Guncangan Sektor Keuangan dan Pertahanan
Teknologi dan AI Selamatkan Nasdaq di Tengah Guncangan Sektor Keuangan