Namun begitu, bukan cuma harga minyak yang jadi perhatian. Kerja sama Indonesia dengan Venezuela juga masuk dalam radar pantauan pemerintah. Ini tak lepas dari dinamika politik yang sedang bergolak di negara produsen minyak tersebut.
Airlangga mengingatkan, hubungan AS dan Venezuela memang sudah lama memanas. Ketegangan ini berakar jauh, terutama sejak era Presiden Hugo Chavez yang melakukan nasionalisasi besar-besaran terhadap aset-aset milik perusahaan Amerika.
"Nah ini kemudian berikutnya kan sekarang dengan situasi seperti ini ya kita monitor aja seperti apa," tuturnya.
Situasi yang dimaksud tentu saja merujuk pada eskalasi terbaru. Pada Sabtu (3/1) dini hari, AS disebut melancarkan serangan ke ibu kota Venezuela, Caracas. Operasi militer itu berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS. Pemerintah Venezuela langsung menuding Amerika telah melanggar hukum internasional. Kini, kabarnya Maduro telah berada di wilayah AS.
Dengan perkembangan yang begitu cepat, pantauan ketat dari Jakarta tampaknya akan terus berlanjut. Airlangga dan timnya sepertinya akan sibuk memetakan semua kemungkinan dampaknya bagi perekonomian dalam negeri.
Artikel Terkait
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%
Rupiah Menguat ke Rp16.759 Didorong Harap Perundingan AS-Iran
Saham Jantra Grupo (KAQI) Melonjak 21,9%, Jadi Top Gainer Bursa