Ini jelas sebuah penanda. Kekuatan industri mobil listrik global kini bergeser, dan China berada di pusatnya. Produsen China seperti BYD, SAIC, dan Chery yang membawahi merek Omoda dan Jaecoo benar-benar memanfaatkan momentum transisi energi. Mereka tak cuma menguasai pasar domestik, tapi juga gencar merangsek ke kancah internasional. Ekspor mereka terus membesar.
Tekanan Bertubi di Pasar Sawit
Sementara itu, di bursa komoditas, suasana sama sekali berbeda. Harga minyak sawit terperosok. Mengutip Bloomberg, kontrak berjangka sawit bahkan sempat jatuh di bawah level MYR 4.000 ringgit per ton pada perdagangan Jumat (2/1).
Tekanan datang dari mana-mana. Minyak kedelai, pesaing utamanya di pasar pangan dan bahan bakar, juga melemah cukup dalam 1,8 persen di akhir perdagangan Rabu lalu. Itu membuat posisi sawit makin terjepit.
Kondisi pasar energi global juga tidak membantu. Harga minyak mentah sendiri mengalami penurunan tahunan terdalam sejak 2020. Pasokan yang melimpah dan ketidakpastian geopolitik membuat semuanya terasa gamang.
Namun begitu, ada faktor spesifik yang langsung berdampak: ekspor Malaysia. Negeri penghasil sawit terbesar kedua dunia itu mencatatkan penurunan ekspor bulanan sebesar 5 persen pada Desember, jadi hanya 1,2 juta ton. Data dari AmSpec ini jelas jadi sentimen negatif yang langsung dirasakan pasar. Gabungan semua faktor itulah yang membuat harga komoditas andalan ini terpuruk.
Artikel Terkait
Cadangan LPG Nasional Kembali Normal Setelah Sempat Kritis
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Yield Capai 8,4%
Cimory Bagikan Dividen Rp1,59 Triliun dari Laba Bersih Rp2,03 Triliun
IHSG Melonjak 2,07%, Sentimen Beli Dominasi Pasar Saham