Gerimis tipis masih turun, tapi Uyu (56 tahun) tetap saja mengayuh sepedanya. Di keranjang, bertumpuk minuman dan kopi kemasan. Sudah 13 tahun lelaki asal Tasikmalaya ini menjalani rutinitas yang sama: berkeliling jadi pedagang kopi starling.
Dari Menteng yang elite, menyusuri Sudirman, hingga ke sekitar Stasiun Dukuh Atas, itulah jalur hariannya. Pelanggannya beragam.
“Kadang sopir taksi, banyak juga satpam. Tukang kebun juga. Kalau lagi ada proyek bangunan, ya orang-orang proyek itu yang beli,” cerita Uyu, saat kami bertemu di kawasan Menteng.
Ia biasanya mulai jalan sekitar setengah tujuh pagi. Kalau lagi ramai, bisa dapat seratus ribu sehari. Tapi hari-hari hujan begini, ya terpaksa pasrah. Penghasilan bisa jauh menciut.
“Ya namanya dagang,” tambahnya sambil menghela napas. “Kadang kurang, kadang lebih. Nggak tentu.”
Memang, pilihannya tak banyak. Alasan itulah yang membuatnya bertahan. Selagi tenaga masih ada, ia akan terus mengayuh. Opsi lain? Cuma satu: pulang kampung dan jadi petani.
“Nanti kalau udah nggak kuat, paling pulang. Ngarit, atau nanam di sawah,” ucapnya.
Artikel Terkait
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi
IHSG Naik 6,14%, Saham TRUK Melonjak Lebih dari 100%
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan
Zyrex Dapat Kredit Rp178,8 Miliar dari Bank Permata untuk Ekspansi