Untuk bertemu keluarga di Tasik, ia pulang tiap satu atau dua bulan sekali. Tergantung, tentu saja, pada uang yang berhasil dikumpulkan dan ditabung untuk dibawa pulang.
Di sudut lain ibu kota, nasib serupa dijalani Matsidi. Pria 44 tahun asal Madura ini baru banting setir jadi pedagang kopi keliling sejak 2019. Sebelumnya, sejak merantau tahun 2015, ia coba berbagai hal: kerja kantoran, buka warung makan kecil-kecilan.
“Kerja sama orang itu ribet rasanya. Kalau jualan kopi gini, mau kerja ya udah. Nggak kerja ya udah. Yang penting kita mau cari duit,” katanya di sekitar Dukuh Atas.
Soal penghasilan, ia mengaku sama saja tak menentu. Terutama di musim hujan, uang yang masuk seringkali cuma cukup buat makan sehari-hari. Untuk memaksa diri menabung, Matsidi ikut arisan. Arisannya khusus, cuma diisi sesama pedagang kaki lima.
“Iya, biar ada semangat nabung. Soalnya kan ada tanggungan. Anak mau lanjut ke pondok pesantren,” tuturnya.
Dua cerita, satu napas. Di balik secangkir kopi kemasan yang dijajakan, ada perjuangan harian yang jauh dari kata pasti. Mereka mengayuh, bukan cuma sepeda, tapi juga harapan agar hari esok masih bisa dijalani.
Artikel Terkait
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi
IHSG Naik 6,14%, Saham TRUK Melonjak Lebih dari 100%
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan
Zyrex Dapat Kredit Rp178,8 Miliar dari Bank Permata untuk Ekspansi