Di Jakarta Convention Center, Sabtu lalu, suasana terasa khidmat. Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan para pendekar dalam Munas IPSI ke-16. Pidatonya bukan sekadar sambutan biasa, melainkan sebuah kilas balik panjang tentang sejarah, perlawanan, dan tentu saja, pencak silat.
Dia membuka dengan menggambarkan betapa Nusantara ini selalu jadi incaran. Kekayaan alamnya luar biasa. Itu sebabnya, kata Prabowo, bangsa asing silih berganti datang ke sini. "Kita pernah dijajah ratusan tahun. Silih berganti karena nusantara sangat-sangat kaya," ujarnya.
Suaranya lantang terdengar di ruangan itu.
"Dari dulu sampai sekarang kita sangat kaya, dari dulu sampai sekarang kita diganggu, bukan kita yang ke sana, mereka yang ke sini."
Karakter bangsa yang ramah pun jadi cerita. Menurutnya, keramahan itu justru sempat dimanfaatkan. Para pendatang merasa betah dan enggan pulang. Akhirnya, perlawanan tak terelakkan.
"Kita ini bangsa yang ramah, kita terima mereka dengan baik. Tapi yang datang itu lihat kok bangsa ini baik banget, ya tidak mau pulang-pulang. Terpaksa kita harus usir, harus lawan mereka," kata Prabowo.
Nah, di sinilah peran pencak silat menjadi sentral. Prabowo mengisahkan masa-masa suram ketika ilmu bela diri ini dilarang berlatih. Praktis, aktivitasnya harus sembunyi-sembunyi.
"Waktu itu pencak silat dilarang, tidak boleh belajar. Akhirnya pencak silat dilatih malam-malam oleh guru-guru kita di bukit-bukit, di gunung-gunung," tuturnya.
Akibatnya, citranya sempat terpinggirkan. Hanya dikenal sebagai "olahraga kampung" yang berkembang jauh dari keramaian kota.
"Yang belajar pencak silat ya cari desa, cari kampung, cari gunung, latihannya diam-diam, ilmunya diam-diam," lanjutnya.
Momen ini juga dia gunakan untuk sebuah pengumuman penting. Setelah puluhan tahun, dia memutuskan untuk mundur dari jabatan ketua umum.
"Boleh lah saya nostalgia, karena di sinilah saya mohon diri, saya pamit sebagai ketua umum. Bisa dikatakan saya sudah 34 tahun di kalangan IPSI," ucapnya.
Meski begitu, komitmennya tak lantas hilang. Dia berjanji tetap mendukung IPSI, dengan atau tanpa jabatan. "Seorang pendekar adalah sampai napas dia terakhir dia pendekar," katanya tegas.
Ada satu hal yang tampaknya masih mengganjal. Prabowo menyampaikan permohonan maaf karena belum berhasil membawa pencak silat ke Olimpiade. "Saya minta maaf saya belum berhasil membawa pencak silat ke Olimpiade. Kita terus berusaha, saya yakin pengganti saya nanti akan berhasil," ujarnya.
Namun begitu, dia mengingatkan agar obsesi pada pengakuan internasional jangan sampai mengikis hal mendasar. Menjaga mutu dan kemurnian ilmu justru lebih utama.
"Kalau ilmunya murni, ilmunya kuat, saudara-saudara dari mana-mana akan datang belajar," tegasnya.
Dia bahkan menyebut dengan bangga bagaimana Indonesia pernah melatih negara lain, seperti Vietnam dan Thailand, yang kemudian justru jadi pesaing tangguh. "Tidak apa-apa, karena itu tugas seorang guru," katanya.
Di akhir pidato, Prabowo menegaskan sekali lagi keputusannya untuk tidak maju lagi. "Saya menyatakan di sini mohon diri, minta maaf, saya tidak bersedia untuk dicalonkan kembali. Saya yakin sudah ada generasi penerus yang pantas," tandasnya.
Ruang JCC pun bergemuruh dengan tepuk tangan.
Artikel Terkait
IAEA Peringatkan Bahaya Serangan Drone di PLTN Zaporizhzhia, Sebut Insiden Pertama Sejak April 2024
Kvaratskhelia Dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Liga Champions 2025/26 Usai Bawa PSG Juara
Kebakaran Gudang Limbah Tekstil di Cikarang Barat, Pemilik Warung Tegal Evakuasi Pelanggan
11 Negara Siap Bertarung di Piala AFF U-19 2026, Indonesia Jadi Tuan Rumah Sekaligus Juara Bertahan