Iran Setujui Gencatan Senjata Dua Pekan, Perundingan Damai dengan AS Segera Dimulai di Islamabad

- Sabtu, 11 April 2026 | 18:45 WIB
Iran Setujui Gencatan Senjata Dua Pekan, Perundingan Damai dengan AS Segera Dimulai di Islamabad

Sebuah gencatan senjata dua pekan akhirnya disepakati. Ini membuka jalan bagi perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, yang rencananya digelar Sabtu (11/04) mendatang. Tapi keputusan ini jelas tak disukai semua orang. Di dalam negeri, kelompok garis keras Iran langsung naik pitam.

Bayangkan saja, baru beberapa hari lalu mereka memasang spanduk raksasa di salah satu persimpangan tersibuk di Teheran. Pesannya singkat dan menohok: "Selat Hormuz akan tetap ditutup."

Spanduk itu dianggap sebagai pernyataan sikap dari Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei. Figur yang belum banyak terlihat publik sejak ditetapkan sebagai pemimpin bulan lalu. Namun begitu, spanduk itu kini mungkin harus segera diturunkan. Semuanya berubah setelah Iran menyetujui gencatan senjata dan rencana perundingan di Pakistan. Padahal, sebelumnya Tehran berulang kali bersikukuh: tidak akan ada gencatan senjata sementara, apalagi perundingan damai.

Sebuah 'Hadiah' untuk Musuh?

Kekecewaan kelompok garis keras sangat terasa. Mereka merasa sedang di atas angin setelah Iran berhasil menutup Selat Hormuz dan melancarkan serangan rudal serta drone ke negara-negara Teluk. Bagi mereka, ini saatnya melanjutkan perang, bukan berunding. Bukankah posisi Iran sedang unggul melawan AS dan Israel?

Laporan dari lapangan menyebutkan, aksi protes pun meletus. Bendera AS dan Israel dibakar tak lama setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata pada Selasa (07/04) lalu.

Bahkan, sekelompok pria dari milisi Basij yang berada di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berbaris menuju Kementerian Luar Negeri Iran di tengah malam. Mereka menentang keputusan itu.

Beberapa jam kemudian, pemimpin redaksi surat kabar garis keras Kayhan menulis dengan nada pedas. Menurutnya, menyetujui gencatan senjata tak lain adalah "hadiah bagi musuh". Alasannya sederhana: jeda ini hanya memberi kesempatan bagi AS dan Israel untuk mengisi ulang persenjataan mereka sebelum perang berlanjut.

Keputusan akhir ternyata ada di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC), lembaga pengambil keputusan tertinggi di bawah Pemimpin Tertinggi. Lembaga yang kini dipimpin Presiden moderat Masoud Pezeshkian itu menyetujui permintaan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, untuk menjadi mediator.

SNSC kemudian mengumumkan, jalur pelayaran aman di Selat Hormuz akan dibuka selama dua pekan. Itu imbalannya, sementara gencatan senjata dari AS dan Israel berlaku dan perundingan damai berjalan. Menariknya, sejumlah laporan menyebut China punya peran penting di balik layar, meyakinkan Iran untuk menerima tawaran Pakistan.

Nafas bagi Warga yang Lelah

Di sisi lain, gencatan senjata ini seperti oksigen bagi warga biasa. Perang 40 hari telah meninggalkan kehancuran yang sangat besar.

Aktivis hak asasi manusia melaporkan lebih dari 3.000 orang tewas. Ancaman Presiden AS Donald Trump soal korban jiwa yang bisa bertambah pun sempat menggantung. Bahkan di kalangan garis keras sendiri, pelan-pelan muncul kesadaran bahwa jalan buntu harus segera diakhiri sebelum infrastruktur vital Iran hancur berantakan.

Beberapa jam sebelum gencatan senjata diumumkan, Ketua Mahkamah Agung Iran yang berhaluan keras, Gholamhossein Mohseni Ejei, sudah memberi sinyal. Di televisi pemerintah, ia mengatakan negara sedang mencari cara mengakhiri perang tanpa kehilangan muka. Pernyataannya sebenarnya menggemakan tulisan mantan Menteri Luar Negeri moderat, Mohammad Javad Zarif, di Foreign Affairs beberapa hari sebelumnya.

SNSC sendiri menggambarkan kesepakatan ini sebagai sebuah kemenangan diplomatik Iran. Mereka menyerukan pendukung rezim untuk tetap bersatu.

Menurut media Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf akan memimpin delegasi di Islamabad. Ia akan berhadapan langsung dengan Wakil Presiden AS JD Vance. Ini sendiri sudah sebuah penyimpangan besar. Negosiasi langsung dengan AS selalu diharamkan di era pemimpin sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Israel akhir Februari lalu. Kontak langsung ini rupanya sudah dapat lampu hijau dari pemimpin baru, yang tak lain adalah putra Khamenei.

Meski gencatan senjata sudah berlaku, jalan menuju perdamaian tetap panjang dan berliku. Perang bisa saja menyala kembali jika perundingan di Islamabad mentok. Dan anehnya, kemungkinan itu justru dinanti-nanti oleh sebagian warga Iran yang mendukung perang. Bagi mereka, konflik adalah satu-satunya jalan meruntuhkan rezim yang mereka anggap keji.

Tapi bagi kebanyakan orang di jalanan, dua pekan tanpa sirene serangan dan ledakan adalah anugerah. Sebuah jeda singkat dari kematian dan kehancuran yang sudah terlalu lama menyelimuti hidup mereka.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar