Keiko Fujimori akhirnya berhasil merebut kursi kepresidenan Peru setelah tiga kali gagal. Dalam putaran kedua Pemilu Presiden Peru 2026 yang digelar Juni lalu, ia memperoleh 50,135 persen suara, unggul tipis atas lawannya Roberto Sánchez yang meraih 49,865 persen suara. Kemenangan ini sekaligus mengukir sejarah: Keiko menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai Presiden Peru melalui pemilu.
Sebelumnya, Peru pernah dipimpin oleh seorang perempuan, Dina Boluarte, namun ia naik dari posisi wakil presiden setelah pemakzulan Pedro Castillo pada 2022, bukan melalui pemilu.
Perjalanan Keiko menuju puncak kekuasaan penuh liku. Pada 2011, ia lolos ke putaran kedua tetapi dikalahkan Ollanta Humala. Lima tahun kemudian, ia kalah tipis dari Pedro Pablo Kuczynski. Pada Pilpres 2021, ia kembali harus mengakui keunggulan Pedro Castillo. Tiga kekalahan beruntun tidak memadamkan ambisinya. Pencalonan keempat akhirnya membuahkan hasil.
Keiko Sofía Fujimori Higuchi lahir di Lima, 25 Mei 1975, sebagai putri sulung Alberto Fujimori, Presiden Peru 1990–2000, dan Susana Higuchi. Darah keturunan Jepang mengalir dari kedua orang tuanya. Ia tumbuh bersama tiga adik: Hiro, Sachi, dan Kenji Fujimori.
Kehidupan politiknya dimulai sejak remaja. Pada usia 19 tahun, setelah orang tuanya bercerai, ia ditunjuk sang ayah menjadi Ibu Negara Peru untuk periode 1994–2000. Di usia muda itu, ia tidak hanya mendampingi ayahnya dalam agenda kenegaraan, tetapi juga aktif mengunjungi komunitas marjinal dan mendirikan Peruvian Baby Heart Foundation, yayasan yang membantu operasi jantung anak-anak kurang mampu.
Meski sibuk sebagai Ibu Negara, Keiko tetap menempuh pendidikan tinggi. Ia meraih gelar Business Administration dari Boston University pada 1997, kemudian Master of Business Administration (MBA) dari Columbia University pada 2008.
Perjalanan keluarganya berubah drastis pada akhir 2000. Alberto Fujimori menghadapi tuduhan korupsi dan pelanggaran HAM, dipaksa mundur, dan melarikan diri ke Jepang. Peristiwa itu mengakhiri peran Keiko sebagai Ibu Negara dan terus membayangi karier politiknya.
Meski demikian, Keiko membangun kariernya sendiri. Pada 2006, ia terpilih sebagai anggota Kongres Peru. Empat tahun kemudian, ia memimpin Fuerza Popular, partai sayap kanan konservatif.
Dalam debat calon presiden pada 31 Mei 2026, Keiko menegaskan komitmennya. “Kita harus melakukan sesuatu sekarang untuk memperbaiki negara kita, atau kita akan mengulangi resep yang sama yang sudah gagal,” ujarnya.
Keiko akan dilantik pada 28 Juli mendatang dan memimpin Peru untuk periode 2026–2031.
Artikel Terkait
Gempa Kembar Guncang Peru, Enam Tewas dan Puluhan Terluka
Mendag Dorong Pengesahan IP-CEPA untuk Perluas Akses Pasar ke Amerika Latin
Indonesia Catat Surplus Perdagangan dengan Peru, Ekspor Tembus USD225,77 Juta
Dukun di Peru Gelar Ritual Ramal Juara Piala Dunia 2026