Pemerintah Pangkas Target Produksi Nikel dan Batu Bara di 2026
Pemerintah punya rencana baru untuk dua komoditas andalan: nikel dan batu bara. Lewat RKAB 2026, produksi keduanya bakal dikurangi. Tujuannya jelas, mendongkrak harga yang selama ini tertekan. Langkah ini dinilai tepat, tapi dengan satu catatan penting: butuh koordinasi dengan negara produsen lain.
Menurut sejumlah saksi, komunikasi itu kunci. "Ini langkah pengendalian suplai, sih. Tapi bukan satu-satunya cara," ujar Bisman Bakhtiar, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP).
Ia menambahkan, "Harus dibarengi langkah lain. Termasuk juga perlu ngobrol dengan negara-negara produsen lain. Biar nggak cuma volume yang turun, tapi harga bisa naik signifikan."
Tanpa itu, upaya pemerintah bisa sia-sia. Bisman memproyeksi penurunan harga masih akan berlanjut, terutama untuk nikel dan batu bara. Penyebabnya beragam.
Permintaan global lagi lesu. Untuk batu bara, ada faktor transisi energi yang bikin demand menyusut. Nikel? Nasibnya tak jauh beda. "Enggak jadi dipakai secara masif untuk baterai EV kayak yang dibayangkan sebelumnya," jelas Bisman. Sentimen terkuat tetap kelebihan pasokan dan ekonomi global yang lambat.
Di sisi lain, pengamat energi Tumbur Parlindungan sepakat langkah pemerintah sudah pada jalur yang benar. Tapi ia tak menampik realitas di lapangan: permintaan nikel memang lagi turun.
"Sehingga harga terkoreksi," katanya.
Artikel Terkait
Ketegangan AS-Iran Dongkrak Dolar, Pasar Waspadai Inflasi dan Suku Bunga
IEA Peringatkan Kerusakan Aset Energi di Timur Tengah Picu Krisis Global
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram Pasca-Lebaran, Galeri24 dan UBS Stabil
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram, Galeri24 dan UBS Stabil