Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, baru saja membuat pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia berjanji akan mundur dari jabatannya jika koalisi pemerintah gagal meraih mayoritas kursi dalam pemilu bulan depan. Ya, taruhannya jelas: menang atau keluar.
Pemilu sendiri dijadwalkan pada 8 Februari mendatang. Ini terjadi lebih cepat dua setengah tahun dari seharusnya, setelah parlemen resmi dibubarkan pekan lalu. Jadi, waktu yang tersisa sangat singkat.
Dalam sebuah debat antar pemimpin partai yang digelar sebelum kampanye dimulai, Takaichi bersikap blak-blakan. "Kekalahan dalam pemilu akan membuat saya tidak bisa melanjutkan tugas sebagai perdana menteri," ujarnya tegas.
Lalu, apa sebenarnya yang ia maksud dengan 'kekalahan' itu? Ketika didesak untuk memperjelas, Takaichi pun memberikan patokan yang konkret. Ia akan mengundurkan diri jika koalisi pemerintah yang terdiri dari Partai Demokratik Liberal (LDP) pimpinannya dan Partai Inovasi Jepang yang lebih kecil gagal mengamankan lebih dari separuh kursi di majelis rendah.
Di sisi lain, keputusan menggelar pemilu lebih awal ini bukan tanpa alasan. Analis politik melihat ini sebagai langkah strategis Takaichi untuk memanfaatkan momentum popularitasnya yang sedang naik. Soalnya, LDP saat ini tidak punya mayoritas mutlak di parlemen, sehingga seringkali kebijakan mereka mentok dan sulit diloloskan.
Yang menarik, periode kampanye resmi baru dimulai Selasa kemarin. Artinya, para kandidat hanya punya waktu 16 hari untuk melobi pemilih. Jangka waktu yang sangat pendek, bahkan tercatat sebagai yang terpendek dalam sejarah pemilu Jepang. Situasinya jadi makin panas dan serba cepat.
Sekarang, semua mata tertuju pada hasil 8 Februari. Apakah Takaichi bisa mempertahankan kursinya, atau justru harus menepati janji pengunduran dirinya? Kita tunggu saja.
Artikel Terkait
Selebritas Hollywood Meriahkan Pembukaan Piala Dunia 2026 di Los Angeles
Pengamat Sebut Pembebasan PPN Tiket Pesawat Domestik Bisa Tekan Harga dan Dongkrak Konektivitas Nasional
Koalisi Jaksa Agung AS Buka Penyelidikan Besar-besaran terhadap OpenAI
Pemulangan Jamaah Haji Indonesia 2026 Capai 79.438 Orang, Kemenag Jaga Layanan hingga Kloter Terakhir