Namun begitu, harapan itu tampaknya tak kunjung terwujud. Kinerjanya justru terus merosot.
Di sisi lain, Hera menegaskan bahwa penutupan ini tidak akan menggoyang Avian secara material. Kontribusi MPI terhadap pendapatan induknya memang sangat kecil. Pada tahun 2024 lalu, pendapatan MPI hanya menyumbang sekitar 0,55 persen dari total pendapatan konsolidasi Avian Brands.
Lalu, ke mana fokus Avian selanjutnya? Perusahaan milik taipan Hermanto Tanoko ini akan mengalihkan seluruh perhatiannya pada bisnis inti. Strateginya jelas: memperkuat lini usaha yang sudah terbukti kinerjanya dan punya prospek pertumbuhan lebih cerah.
Dengan strategi ini, Avian berharap bisa meningkatkan efisiensi operasional dan menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemegang sahamnya. Penutupan MPI, dalam pandangan mereka, adalah langkah penyelamatan untuk mencegah kerugian yang lebih besar di masa depan.
Artikel Terkait
Palantir Pacu Nasdaq, Emas Melonjak 6% di Tengah Gejolak Pasar
Mendag Tegaskan Tak Ada Moratorium, Ekspor Kelapa Tetap Jalan
Pemerintah Pacu Investasi Rp 2.175 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6%
Wacana Gentengisasi Prabowo Hangatkan Harapan di Jatiwangi