Meski begitu, rincian besaran pemotongan produksi untuk tahun 2026 dibanding tahun ini belum diungkap. Baik untuk batu bara maupun nikel, Bahlil belum memberikan angka pastinya.
RKAB juga akan dijadikan alat kontrol. Bahlil mengingatkan perusahaan-perusahaan yang bandel.
“Lewat RKAB, ini juga kita mengontrol bagi perusahaan-perusahaan yang tidak mentaati aturan. Ya mohon maaf, RKAB-nya juga mungkin akan dilakukan peninjauan. Supaya apa? Kita mau menjalankan semua disiplin, lingkungan harus kita jaga semuanya,” pungkasnya.
Rencana ini rupanya sudah mulai berdampak di pasar global. Harga nikel, misalnya, tercatat menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Ia mulai bangkit dari level terendah dalam delapan bulan terakhir.
Pemicunya? Berkurangnya prospek pasokan dari Indonesia, yang notabene adalah produsen utama nikel dunia. Data dari Bloomberg menunjukkan, pada Jumat (19/12) harga mineral itu naik hingga 1,5 persen. Kenaikan ini terjadi dua hari setelah wacana pengurangan produksi bijih nikel pada 2026 mencuat.
Target produksi nikel dalam RKAB 2026 disebutkan sekitar 250 juta ton. Jauh lebih rendah dibanding target tahun ini yang mencapai 379 juta ton.
Selain soal volume, ada rencana lain yang sedang disiapkan. Kementerian ESDM berencana merevisi formula harga acuan untuk bijih nikel di awal 2026 nanti. Revisi ini akan mengklasifikasikan produk sampingan seperti kobalt sebagai komoditas terpisah yang tentu saja dikenakan royalti. Langkah ini semakin menunjukkan upaya pemerintah untuk mengatur pasar dengan lebih ketat.
Artikel Terkait
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG
Menkeu Purbaya Bicara Beban Jabatan dan Rencana Bantu Pedagang Terbelit Utang
Bitcoin Koreksi 7% Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga dan Revisi Proyeksi Inflasi