Tol Sumatera Ditargetkan Pulih Sebelum Nataru, Indonesia Setor Rp 16,6 Triliun ke Bank BRICS

- Rabu, 03 Desember 2025 | 06:12 WIB
Tol Sumatera Ditargetkan Pulih Sebelum Nataru, Indonesia Setor Rp 16,6 Triliun ke Bank BRICS

Berita soal jalan tol Sumatera yang rusak akibat bencana ramai dibaca pembaca pada Selasa (2/12). Kabar baiknya, ruas-ruas yang terdampak itu ditargetkan bisa beroperasi lagi sebelum puncak arus mudik Natal dan Tahun Baru nanti.

Di sisi lain, ada satu lagi berita yang menarik perhatian, khususnya di kanal bisnis. Indonesia baru saja menyetorkan dana investasi senilai satu miliar dolar AS atau sekitar Rp 16,61 triliun ke New Development Bank (NDB). Langkah ini tak lepas dari keikutsertaan Indonesia dalam BRICS.

Target Perbaikan Tol Sumatera sebelum Nataru

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) memastikan sejumlah ruas tol di Sumatera yang rusak karena banjir dan longsor akan diperbaiki. Mereka menargetkan semua bisa berfungsi normal sebelum 16 Desember 2025. Koordinasi pun sudah dilakukan dengan Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) agar pelayanan selama musim liburan nanti benar-benar optimal.

Menurut Kepala BPJT Wilan Oktavian, ada lima ruas yang terdampak. Salah satunya adalah ruas Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, di mana terdapat satu titik yang terputus total. Untuk mempercepat perbaikan, tim BPJT sudah turun langsung ke lokasi.

"Kemarin teman-teman kita sudah koordinasi dan tim BPJT juga sudah ke lapangan. InsyaAllah nanti yang terputus-terputus bisa difungsikan lagi sebelum tanggal 16," ujar Wilan.

Dana Triliunan RI untuk New Development Bank

Langkah Indonesia menyetor dana besar ke NDB ini dijelaskan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Menurutnya, ini adalah tindak lanjut konkret setelah Indonesia resmi bergabung dengan BRICS. Dengan begitu, posisi Indonesia bukan sekadar anggota, tapi langsung terlibat aktif dalam menguatkan bank pembangunan itu.

“Bergabungnya Indonesia juga ditindaklanjuti dengan bergabung kepada New Development Bank dan pemerintah sudah sepakat untuk memberikan dana USD 1 miliar untuk investasi New Development Bank,” kata Airlangga.

Masuknya Indonesia ke BRICS sendiri dinilai wajar. Ini sejalan dengan peran Indonesia yang pernah memimpin Konferensi Asia-Afrika. Airlangga menegaskan, penting bagi Indonesia untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara besar di dalamnya, seperti China, India, Brasil, dan Rusia.

“Dengan BRICS kita juga melihat merupakan potensi kerja sama global south. Sebagai konsekuensi Indonesia memimpin konferensi Asia-Afrika, maka normal dengan BRICS ini ada China, ada India, ada Brasil, ada Rusia,” jelasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar