Morowali Siapkan Pabrik Kelapa Terbesar, Serap 500 Juta Butir per Tahun

- Rabu, 03 Desember 2025 | 04:06 WIB
Morowali Siapkan Pabrik Kelapa Terbesar, Serap 500 Juta Butir per Tahun

Morowali bakal punya pabrik hilirisasi kelapa yang cukup besar. Menurut Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, target penyelesaiannya pertengahan 2026 mendatang.

“Insyaallah pada pertengahan tahun 2026 ini pabriknya akan selesai di daerah Morowali dan itu akan menyerap 500 juta butir kelapa setiap tahunnya,”

Rosan menyampaikan hal itu dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (2/12) lalu, di Kompleks Parlemen, Jakarta Selatan.

Proyek ini bukan main-main. Nilai investasinya sudah masuk, mencapai angka 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,66 triliun. Yang menarik, ini disebut-sebut bisa membuka lapangan kerja baru untuk 10.000 orang. Sebuah angka yang tentu sangat signifikan untuk daerah tersebut.

Sebelumnya, Rosan juga sempat berbicara dengan para wartawan di ICE BSD. Ia mengungkapkan ada dua perusahaan asal China yang terlibat.

“Itu penyerapan tenaganya 5.000 orang. Nanti kalau sudah tahun depan penyerapan tenaganya sampai 10.000 orang,”

ujarnya.

Nah, latar belakang proyek ini cukup menarik. Selama ini, sebagian besar kelapa Indonesia ternyata diekspor mentah-mentah ke China. Pemerintah kemudian mengambil inisiatif, mendekati investor China langsung. Tujuannya, meyakinkan mereka untuk membangun pabrik pengolahannya di sini, di dalam negeri.

Setelah melalui pembicaraan yang panjang, akhirnya investor itu setuju. Dan dampaknya langsung terasa.

Dengan adanya pabrik di Morowali, harga kelapa di tingkat petani domestik diprediksi bakal naik. Kenapa? Karena biaya logistik pengiriman ke China tidak lagi membebani.

“Karena mereka tidak lagi perlu memperhitungkan biaya logistik pengiriman kelapa dari dari Indonesia ke China. Dan kita juga akan mulai di beberapa daerah lainnya,”

tutur Rosan.

Ia menekankan, ini adalah capaian penting hilirisasi di sektor perkebunan, khususnya kelapa. Di sisi lain, potensinya masih sangat terbuka lebar. Kelapa itu produk turunannya banyak sekali.

“Ini (kelapa) produk turunannya kan sangat banyak. Nah ini yang kita lakukan, biar value added-nya itu ada di kita. Nilai tambahnya ada di kita. Penciptaan lapangan kerjanya ada di kita,”

kata dia.

Intinya, dengan pabrik ini, seluruh efek ekonomi mulai dari nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, hingga peningkatan pendapatan petani diharapkan bisa dinikmati langsung di dalam negeri. Langkah selanjutnya? Kemungkinan replikasi di daerah-daerah penghasil kelapa lainnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar