Memang, ekspor Oktober 2025 tercatat USD24,24 miliar, turun 2,31 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Penurunan ini terutama disebabkan oleh anjloknya ekspor migas hingga 33,60 persen. Nilai impor juga turun tipis 1,15 persen menjadi USD21,84 miliar. Namun begitu, surplus Oktober lebih banyak ditopang komoditas nonmigas, yang mencapai USD4,31 miliar. Penyumbang utamanya adalah lemak dan minyak hewani nabati, diikuti bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Berita baik lainnya datang dari sektor manufaktur. Aktivitasnya kembali menunjukkan ekspansi untuk bulan keempat berturut-turut. Indeks PMI manufaktur Indonesia pada November 2025 melonjak ke level 53,3, jauh lebih tinggi dari angka 51,2 di bulan sebelumnya. Pencapaian ini bahkan melampaui ekspansi September yang hanya 50,4, meski masih di bawah level Agustus (51,5).
Perlu diingat, sebelum ekspansi beruntun ini, PMI manufaktur sempat terpuruk. Kontraksi terjadi selama empat bulan, sejak April hingga Juli 2025, dengan titik terendahnya di level 46,7 pada April lalu. Pemulihannya terasa signifikan.
Merangkum semua analisis itu, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah ke depan akan cenderung fluktuatif. Namun, ia melihat potensi untuk ditutup menguat dalam rentang yang cukup ketat, yakni antara Rp16.630 hingga Rp16.670 per dolar AS. Kita lihat saja perkembangannya.
Artikel Terkait
Saham OILS Melonjak 12% di Tengah Konflik Timur Tengah Meski Tak Berkaitan dengan Minyak Bumi
IHSG Tipis Menguat ke 8.019,55, Sektor Terbelah dan Saham-saham Ekstrem Bergolak
Saham Migas Anjlok di BEI Meski Harga Minyak Dunia Menguat
Dua Investor Suntik Rp3,2 Triliun untuk Pabrik Kimia Strategis di Cilegon