Gelap Gulita Masih Selimuti Aceh Tamiang
Sudah dua pekan berlalu, tapi suasana malam di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Tamiang masih gelap pekat. Kota Kuala Simpang, misalnya, hingga Selasa (9/12) malam kemarin belum sepenuhnya terang. Pasca banjir bandang dan tanah longsor, pemulihan listrik ternyata tak semudah yang dibayangkan.
Warga pun terpaksa beradaptasi. Hidup dalam kegelapan bukan hal yang mudah. Untuk sekadar beraktivitas di luar rumah, beberapa orang mengandalkan senter atau bahkan lampu kilat dari kamera ponsel mereka. Di sekitar tenda-tenda darurat, cahaya api unggun jadi andalan untuk menerangi malam.
Jalanan kota juga tak kalah suram. Minimnya penerangan jalan karena jaringan listrik yang masih mati membuat suasana makin muram. Kendaraan yang lalu-lalang terpaksa mengandalkan sorot lampu mobil atau motor, jadi satu-satunya sumber cahaya yang menerangi aspal.
Kondisi ini tentu saja menambah berat beban warga. Setelah rumah dan harta benda porak-poranda, kini mereka harus bertahan tanpa listrik yang merupakan kebutuhan dasar. Kapan situasi ini berakhir? Pertanyaan itu masih menggantung, sama gelapnya dengan malam-malam di Aceh Tamiang saat ini.
Artikel Terkait
Lebaran 2026: Kekuatan Ucapan Tulus Jembatani Jarak dan Pererat Silaturahmi
Ledakan Tabung Gas di KM Citra Anugrah Tewaskan Dua Awak di Pelabuhan Selayar
Ledakan Guncang Masjid di Jember Saat Salat Tarawih, Tidak Ada Korban Jiwa
MK Beri Tenggat Dua Tahun untuk Revisi UU Hak Keuangan Pejabat Negara