Saham OILS Melonjak 12% di Tengah Konflik Timur Tengah Meski Tak Berkaitan dengan Minyak Bumi

- Selasa, 03 Maret 2026 | 14:15 WIB
Saham OILS Melonjak 12% di Tengah Konflik Timur Tengah Meski Tak Berkaitan dengan Minyak Bumi

Saham OILS tiba-tiba jadi buah bibir di pasar modal. Di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama antara Iran dan Israel, saham emiten ini justru melesat. Padahal, konflik biasanya bikin pasar kalang kabut.

Hari ini saja, hingga pukul 13.30 WIB, harganya sudah naik Rp32 ke level Rp296. Itu artinya kenaikan sekitar 12 persen. Lonjakan ini seolah melanjutkan euforia kemarin, di mana sahamnya sampai tersedot ke batas auto reject atas setelah melonjak 35 persen. Cukup fantastis.

Lalu, siapa yang beli? Tercatat, broker MG (Semesta Indovest Sekuritas) kemarin memborong dengan pembelian bersih Rp1,7 miliar. Di sisi lain, broker XL (Stockbit Sekuritas) justru mencatatkan penjualan bersih yang cukup besar, Rp881 juta. Ada yang ambil untung, ada juga yang yakin masih akan naik.

Memang, OILS tidak sendirian. Saham-saham sektor energi lain seperti MEDC, ENRG, dan RAJA juga ikut naik. Tapi yang menarik, OILS ini sebenarnya punya cerita unik. Meski ticker-nya berbau minyak, mereka bukan produsen minyak bumi. Bukan.

Perusahaan ini justru bergerak di minyak kelapa. Lebih spesifiknya, mereka memproduksi crude coconut oil (CCNO) dan produk turunannya. Mereka juga mengolah ampas atau bungkil kelapa dari sisa produksi. Pabriknya beroperasi di Mojokerto, Jawa Timur.

Menurut informasi, OILS termasuk salah satu eksportir minyak kelapa terbesar di Indonesia. Jangkauan pasar mereka sudah meluas ke sejumlah negara, sebut saja Malaysia, Thailand, sampai Bangladesh, Sri Lanka, dan Turki.

Lalu, bagaimana kinerja keuangannya? Sepanjang periode Januari hingga September 2025, OILS membukukan pendapatan usaha sebesar Rp754 miliar. Laba bersihnya di periode yang sama tercatat sekitar Rp6,4 miliar.

Jadi, kenaikan sahamnya kali ini lebih karena sentimen "minyak" secara umum akibat konflik, meski produknya berbeda. Pasar seperti bereaksi pada nama, sebelum melihat isinya. Menarik untuk dilihat, apakah momentum ini akan bertahan atau justru meredup setelah euforia berlalu.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar