Di tengah semua itu, ada kabar yang cukup menggembirakan nih. Pelaku pasar mencatat India sebagai pembeli utama diprediksi bakal meningkatkan impor minyak sawit sekitar 20 persen pada tahun pemasaran berikutnya. Alasannya sederhana: harga yang lebih kompetitif. Ini tentu jadi sokongan tambahan yang cukup berarti.
Tapi jangan terlalu euforia dulu. AmInvestment Bank menilai sentimen CPO secara umum masih lemah. Mereka bahkan menganggap setiap kenaikan harga sebagai peluang buat membuka posisi jual. Bank itu memprediksi level support CPO ada di MYR 3.947 per ton, sementara resistance di MYR 4.070 per ton.
Faktanya, kenaikan harga masih terbebani oleh beberapa hal. Penguatan ringgit dan ekspor yang lemah jadi dua faktor utama. Data dari surveyor kargo menunjukkan pengiriman Malaysia pada 25 hari pertama November diperkirakan turun 16,4–18,8 persen dibanding bulan sebelumnya. Ya, turun cukup signifikan.
Data industri Oktober juga patut jadi perhatian. Produksi naik 11 persen ke level tertinggi sejak Agustus 2015, sementara stok malah merangkak naik ke titik tertinggi dalam enam setengah tahun. Waduh.
Menyikapi hal ini, Dewan Minyak Sawit Malaysia pun mengambil langkah. Mereka menetapkan harga referensi CPO yang lebih rendah untuk bulan Desember. Tujuannya jelas: menjaga daya saing ekspor di tengah permintaan global yang lagi lesu.
Artikel Terkait
Wall Street Dibuka Merah, Dihantui Ketegangan Iran dan Inflasi yang Membandel
RGAS Rencanakan Diversifikasi ke Bisnis Material Konstruksi pada 2026
Prabowo Ucapkan Terima Kasih kepada Putin atas Dukungan Masuknya Indonesia ke BRICS
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026