Harga minyak dunia anjlok lebih dari satu persen di akhir sesi Selasa kemarin. Rupanya, ada sinyal diplomatik dari Ukraina yang bikin pasar bergerak. Upaya AS untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina dikabarkan mulai menunjukkan titik terang.
Nah, kalau konflik ini benar-benar berakhir, sanksi Barat terhadap perdagangan energi Moskow kemungkinan bakal dilonggarkan. Alhasil, pasokan minyak bisa bertambah di tengah situasi pasar yang sudah lesu karena prediksi kelebihan suplai tahun depan.
Kontrak berjangka Brent merosot 1,4 persen ke angka USD62,48 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga ikut terpuruk, turun 1,5 persen menjadi USD57,95 per barel. Yang cukup mencengangkan, kedua acuan harga ini sempat nyungsep ke level terendah sejak akhir Oktober lalu.
Di sisi lain, kabar tentang kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ke AS dalam waktu dekat semakin menguat. Menurut Rustem Umerov, Kepala Keamanan Nasional Kyiv, kunjungan ini bertujuan merampungkan kesepakatan damai dengan Presiden AS Donald Trump.
Tapi jangan terlalu berharap dulu. Ed Hayden-Briffett, analis dari Onyx Capital Group, mengingatkan bahwa Rusia bersikukuh tidak akan membiarkan kesepakatan menyimpang dari tujuan awalnya. Posisi keras Rusia inilah yang bikin harga minyak gak jatuh lebih dalam lagi pasar masih ragu apakah kesepakatan formal benar-benar bisa tercapai.
Ketidakpastian makin menjadi setelah Rusia kembali melancarkan serangan rudal ke Kyiv pada hari Selasa. Serangan itu menewaskan enam orang, melukai belasan lainnya, dan merusak sistem listrik serta pemanas ibukota Ukraina.
"Butuh dua pihak untuk berdamai, dan masih belum jelas apakah Rusia juga setuju,"
kata Giovanni Staunovo, analis UBS, seperti dikutip Reuters.
Analis dari Ritterbusch and Associates malah bilang bahwa bagian tersulit dari proses negosiasi ini bahkan belum dimulai. Masih ada jurang perbedaan yang lebar antara kedua pihak yang harus dijembatani.
Sementara itu, di luar konflik geopolitik, banyak analis memprediksi pertumbuhan suplai minyak mentah pada 2026 akan melampaui kenaikan permintaan. Deutsche Bank, misalnya, memperkirakan surplus setidaknya 2 juta barel per hari tahun depan. Mereka bahkan belum melihat tanda-tanda pasar bakal kembali defisit hingga 2027.
Commerzbank Research punya analisis menarik. Menurut mereka, kesepakatan damai bisa membantu Rusia meningkatkan produksi minyak hingga mencapai volume yang disepakati dalam OPEC .
Sanksi terhadap raksasa minyak Rusia seperti Rosneft dan Lukoil, plus larangan penjualan produk minyak olahan Rusia ke Eropa, ternyata berdampak signifikan. Kilang-kilang India mulai mengurangi pembelian minyak Rusia.
Commerzbank mencatat, ekspor Rusia pun menurun dan persediaan minyak mentah mereka di kapal tanker menumpuk. Stok ini bisa membanjiri pasar jika sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil dicabut.
Rusia sendiri tak tinggal diam. Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengungkapkan bahwa negaranya sedang membahas cara memperluas ekspor ke China.
Di Amerika, persediaan minyak mentah justru dilaporkan turun pekan lalu, sementara stok bahan bakar malah naik. Data dari American Petroleum Institute menunjukkan tren ini, bertolak belakang dengan survei Reuters yang memperkirakan kenaikan persediaan minyak mentah AS sebesar 1,86 juta barel.
Nantikan data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis Rabu ini pukul 22.30 WIB. Itu yang bakal kasih kepastian.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Buyback Melonjak Lebih Tinggi
SINI Gelar Rights Issue Rp3,6 Triliun untuk Akuisisi Tambang Batu Bara
IHSG Naik 2,35%, Saham DEFI dan WBSA Melonjak Lebih dari 200%
Pembukaan Kembali Selat Hormuz Picu Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok