SINI Gelar Rights Issue Rp3,6 Triliun untuk Akuisisi Tambang Batu Bara

- Sabtu, 18 April 2026 | 10:50 WIB
SINI Gelar Rights Issue Rp3,6 Triliun untuk Akuisisi Tambang Batu Bara

PT Singaraja Putra Tbk, atau SINI, punya rencana besar. Perusahaan ini berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan saham baru jumlahnya tak tanggung-tanggung, hingga 721,5 juta lembar. Meski harga dan rasionya belum dipastikan, langkah ini jelas ditujukan untuk mendanai ekspansi sekaligus memperkuat fondasi keuangan mereka.

Nah, uang yang terkumpul nanti rencananya bakal dialokasikan untuk tiga hal. Pertama, untuk mengakuisisi PT Kemilau Mulia Sakti dari PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan nilai sekitar Rp1,7 triliun. Selain itu, dana juga akan dipakai untuk melunasi utang lebih cepat dan menambah modal kerja.

Rencana ini tentu butuh persetujuan pemegang saham. Untuk itu, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) telah dijadwalkan pada 26 Mei 2026 mendatang. Namun begitu, sampai detik ini SINI belum mengungkap siapa calon pembeli siaga dalam aksi korporasi ini.

Lantas, seperti apa perusahaan yang jadi target akuisisi ini? PT Kemilau Mulia Sakti adalah perusahaan holding yang menguasai tambang batu bara di Kalimantan Timur lewat PT Cristian Eka Pratama. Tambang itu punya cadangan sekitar 72,9 juta ton, dengan total sumber daya mencapai 134,5 juta ton. Umur operasionalnya diperkirakan masih sekitar 15 tahun ke depan, meski kualitas batubaranya termasuk kalori rendah, berkisar di 3.924-3.993 kcal/kg.

Di sisi lain, catatan keuangan perusahaan target ini belum menggembirakan. Hingga tahun 2025, kerugian yang ditanggung PT Kemilau Mulia Sakti malah membengkak jadi Rp156 miliar. Angka itu naik signifikan dari rugi tahun 2024 yang ‘hanya’ Rp60 miliar.

Rencana rights issue SINI ini muncul di waktu yang menarik. Pasalnya, ada lagi perusahaan lain yang sedang mengincar SINI, yaitu PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Sejak Desember 2025 lalu, CUAN lewat anak usahanya PT Kreasi Jasa Persada sudah mulai negosiasi untuk menguasai minimal 51% saham SINI. Per Maret 2026, kepemilikan CUAN di SINI sudah mencapai 19,74%.

Mengenai hal itu, SINI sendiri mengaku proses akuisisi oleh CUAN masih dalam tahap awal. “Masih ada kaji tuntas yang berjalan, jadi struktur dan nilai transaksi masih bisa berubah,” begitu kira-kira penjelasan perseroan.

Dari kacamata valuasi, akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti ini menarik untuk dicermati. Dengan ekuitas perusahaan target sekitar Rp351,3 miliar per 2025, rencana pembelian senilai Rp1,7 triliun mengindikasikan rasio price to book value (P/BV) 4,9 kali. Angka itu lebih rendah ketimbang P/BV PTRO yang mencapai 14,4 kali. Tapi, rasio price to earnings (P/E) belum bisa dihitung, soalnya perusahaan target masih merugi.

Analis Stockbit pada Kamis (15/4/2026) memberi penilaian. Menurut mereka, rights issue SINI berpotensi mengubah struktur modal secara drastis. Coba bayangkan, kalau harga pelaksanaannya Rp5.000 per saham, dana yang bisa dihimpun bisa mencapai Rp3,6 triliun. Tapi efek pengenceran sahamnya juga besar, bisa sampai 60%.

Jika skenario itu benar terjadi, ekuitas SINI diprediksi bakal berbalik arah. Dari sebelumnya negatif Rp687 miliar, bisa melonjak jadi positif sekitar Rp1,5 triliun. Perubahan ini membuka peluang bagi saham SINI untuk keluar dari papan pemantauan khusus atau FCA. Tapi, semua itu tergantung pada eksekusi operasional tambang yang diakuisisi nanti. Tidak semudah membalik telapak tangan.

Bagaimana dengan PTRO selaku penjual? Perusahaan ini akan dapat suntikan kas segar dari divestasi tersebut. Meski begitu, mereka berpotensi mencatat kerugian sekitar Rp100 miliar dibanding total investasi awal. Kendati demikian, langkah ini dinilai positif. Dengan melepas aset tambang, PTRO bisa lebih fokus pada bisnis inti jasa pertambangan profil pendapatannya dianggap lebih stabil.

Sementara bagi CUAN, transaksi ini bisa meringankan beban. Kebutuhan kas untuk mendanai rights issue SINI mungkin berkurang. Selain itu, struktur bisnis grup pun jadi lebih rapi: PTRO fokus di jasa pertambangan, sementara SINI mengurusi produksi batu bara. Semuanya jadi lebih jelas porsinya.

(DESI ANGRIANI)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar