AS Tegaskan Blokade Maritim Terhadap Iran Akan Berlanjut

- Sabtu, 18 April 2026 | 11:20 WIB
AS Tegaskan Blokade Maritim Terhadap Iran Akan Berlanjut
Blokade Maritim AS Terhadap Iran

Blokade maritim yang diterapkan Amerika Serikat di perairan Iran bakal terus berjalan. Militer AS bersikukuh akan menegakkan sepenuhnya pembatasan terhadap kapal-kapal yang hendak masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Pasukan mereka di Timur Tengah, menurut pernyataan resmi, siap mempertahankan situasi ini selama yang diperlukan.

Laksamana Brad Cooper, sang kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), tak ragu menyuarakan hal itu. Dalam sebuah briefing dengan para wartawan Jumat (17/4) waktu setempat, nada suaranya tegas.

"Kami mengawasi setiap kapal Iran di setiap pelabuhan, titik," ujarnya.

"Kami mampu mempertahankan blokade selama diperlukan," tambah Cooper, seperti dilansir Al Arabiya sehari kemudian. Dia menegaskan kembali bahwa pasukan Amerika memang memantau semua pelabuhan Iran tanpa kecuali.

Pernyataan ini muncul setelah Iran sendiri mengumumkan pembukaan Selat Hormuz di tengah gencatan senjata yang berlaku di kawasan. Namun begitu, dari Washington datang sikap yang berbeda. Presiden Donald Trump menegaskan blokade AS tetap berlaku. Menurutnya, ini akan berlangsung sampai ada kesepakatan penuh antara Washington dan Teheran.

Sejak dimulai Senin lalu, blokade ini sudah mencatat beberapa insiden. Cooper menyebut setidaknya 19 kapal telah mencoba melanggar, tapi akhirnya memutar haluan dan kembali ke pelabuhan setelah dapat peringatan. "Tidak ada kapal yang telah atau akan menghindari pasukan AS," tegasnya dalam panggilan telepon itu.

Meski begitu, situasinya tak sepenuhnya tenang. Ada beberapa kapal yang disebutnya "menarik perhatian" dan masih dipantau ketat oleh militer AS, baik yang berada di dalam maupun di luar batas blokade yang ditetapkan.

"Kami mengawasi setiap kapal tersebut," pungkas Cooper, menutup penjelasannya dengan kalimat singkat yang sarat makna.

Jadi, untuk sekarang, pantauan ketat dan blokade itu tetap jadi realitas di perairan tersebut. Semuanya bergantung pada dinamika politik yang rumit antara kedua negara.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar