Pembukaan Kembali Selat Hormuz Picu Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok

- Sabtu, 18 April 2026 | 06:50 WIB
Pembukaan Kembali Selat Hormuz Picu Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok

Wall Street menutup pekan ini dengan catatan hijau yang cukup meyakinkan. Sementara itu, di pasar komoditas, harga minyak justru mengalami penurunan yang sangat tajam. Dua pergerakan yang bertolak belakang ini dipicu oleh satu perkembangan penting: dibukanya kembali Selat Hormuz.

Indeks S&P 500 naik 1,2 persen ke level 7.125,36. Nasdaq Composite, yang dipenuhi saham-saham teknologi, melonjak lebih tinggi lagi, yaitu 1,5 persen menjadi 24.468,48. Dow Jones Industrial Average pun tak ketinggalan, menguat 1,8 persen ke posisi 49.447,92. Yang menarik, S&P dan Nasdaq bahkan berhasil mencatatkan level penutupan tertinggi baru dalam sejarah. Untuk S&P, ini adalah kemenangan ketiga berturut-turut dalam pekan, dengan kenaikan kumulatif yang fantastis, hampir 12 persen.

Namun begitu, suasana sama sekali berbeda di pasar minyak. Sentimen positif tadi berbalik jadi mimpi buruk bagi harga komoditas hitam itu. Minyak mentah Brent anjlok 8,7 persen ke angka USD90,71 per barel. Patokan AS, West Texas Intermediate, jatuhnya lebih dalam lagi, 10,6 persen, menjadi USD84,69 per barel. Penurunan drastis ini langsung terasa setelah ada kabar dari Timur Tengah.

Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management, memberikan komentarnya. Ia menyoroti bagaimana satu berita bisa mengubah segalanya.

"Berita tentang pembukaan kembali Selat Hormuz sepenuhnya telah menyebabkan harga minyak anjlok, saham melonjak, dan investor bersorak atas reli hampir dua minggu ini yang dipimpin oleh perusahaan teknologi besar dengan Nasdaq lebih tinggi untuk hari ke-13 berturut-turut yang belum pernah terlihat sejak akhir krisis keuangan pada tahun 2009,"

Pemicu utamanya adalah pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di platform X. Ia menegaskan bahwa selat tersebut kini terbuka untuk semua kapal komersial, setidaknya selama masa gencatan senjata berlangsung.

"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata,"

Langkah Iran ini bukan tanpa konteks. Sehari sebelumnya, Presiden Donald Trump baru saja mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon. Serangan Israel ke target Hizbullah di Lebanon sebelumnya memang menjadi titik panas yang memperumit hubungan AS-Iran. Trump pun merespons cepat kabar pembukaan selat itu.

Di media sosialnya, ia menulis bahwa jalur air vital itu sekarang "SEPENUHNYA TERBUKA DAN SIAP UNTUK DILALUI SEPENUHNYA." Tapi, ada catatan penting. Dalam unggahan berikutnya, Trump mengklarifikasi. Blokade Amerika terhadap kapal-kapal yang berurusan dengan pelabuhan Iran akan tetap berlaku penuh. Kebijakan itu, tulisnya, "TETAP BERLAKU SEPENUHNYA HANYA UNTUK IRAN, SAMPAI TRANSAKSI KITA DENGAN IRAN SELESAI 100 persen."

Meski bersifat sementara, pembukaan Selat Hormuz jelas jadi angin segar bagi pasar global. Bayangkan, selat sempit itu dilalui oleh seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupannya beberapa waktu lalu sempat memicu gangguan pasokan terparah dalam sejarah, yang otomatis melambungkan harga. Kini, dengan selat dibuka, ketegangan sedikit mereda. Dan pasar pun langsung bereaksi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar