Dari dalam negeri, kabar baik datang dari penilaian IMF. Lembaga ini menilai Indonesia berada di lintasan pertumbuhan kuat dengan fondasi makroekonomi yang semakin solid. Proyeksi pertumbuhan 5-5,8 persen pada 2025 dan 5-6 persen pada 2026 menjadi indikasi bahwa stabilitas Indonesia tidak hanya terjaga, tapi terus menguat.
Kerangka kebijakan pemerintah yang mencakup investasi infrastruktur, penguatan industrialisasi hilir, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja telah membentuk basis pertumbuhan yang lebih kokoh dalam beberapa tahun terakhir. Bauran kebijakan fiskal dan moneter Indonesia dinilai seperti "rekayasa presisi" yang berhasil menjaga stabilitas makro sekaligus memperluas daya tarik investasi.
Bank Indonesia juga mendapat apresiasi. Berbagai indikator utama menunjukkan ketahanan struktural yang signifikan. Bank sentral dinilai menjalankan pelonggaran terukur sambil menjaga stabilitas eksternal, didukung inflasi yang stabil.
Dalam proyeksinya, stabilitas akan menjadi aset strategis Indonesia. Stabilitas ini disebut sebagai "mata uang strategis" yang memperkuat posisi Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045. Kejelasan kebijakan, konsistensi regulasi, dan disiplin fiskal dinilai menciptakan lingkungan yang "secara struktural investable."
Dengan fondasi makro yang terus menguat dan validasi berulang dari lembaga internasional maupun pelaku pasar, Indonesia berada pada posisi yang menguntungkan. Posisi ini memungkinkan Indonesia mempertahankan ketahanan ekonomi serta menarik investasi berkualitas pada fase transformasi berikutnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya. Ia memperkirakan rupiah berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.690-Rp16.730 per dolar AS.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
Analis Proyeksi IHSG Melaju ke Zona 9.000 di Awal Pekan
OJK Tuntaskan 2.263 Pinjol Ilegal Sepanjang 2025
Prabowo Restui Anggaran Aceh Tak Dipangkas, Dasco Jadi Penghubung Kilat
Telepon Subuh Mentan Amran Gagalkan 133,5 Ton Bawang Bombay Ilegal