Nah, dari dalam negeri sendiri, ada kabar baik. Ibrahim menjelaskan, laporan Bank Indonesia (BI) menyebutkan transaksi berjalan Indonesia surplus sebesar USD 4,0 miliar atau setara 1,1 persen dari PDB pada kuartal III 2025.
“Ini adalah surplus pertama sejak 10 kuartal terakhir. Posisi transaksi berjalan ini berbalik dibandingkan dengan defisit USD 2,7 miliar atau 0,8 persen dari PDB pada kuartal II tahun ini,” jelas Ibrahim.
Surplus ini, lanjutnya, ditopang oleh membaiknya neraca perdagangan Indonesia, terutama dari kenaikan surplus di sektor nonmigas. Defisit neraca jasa juga menyusut, seiring dengan ramainya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Di bagian lain, neraca pendapatan primer mencatat defisit yang lebih rendah. Penyebabnya, pembayaran imbal hasil untuk investasi asing menurun karena periode pembayaran dividen dan bunga sudah lewat.
Tapi, tidak semuanya berwarna merah jambu. BI mencatat defisit neraca perdagangan migas justru meningkat, didorong oleh kenaikan harga minyak global. “Lebih lanjut, kinerja transaksi modal dan finansial tetap terkendali di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” tambah Ibrahim.
Yang perlu diwaspadai, investasi portofolio malah mencatat defisit. Ini terutama didorong oleh arus keluar modal asing dari surat utang. Investasi lainnya juga defisit, dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran pinjaman sektor swasta.
“Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial pada triwulan III 2025 mencatat defisit sebesar USD 8,1 miliar,” tutup Ibrahim.
Artikel Terkait
BEI Catat Empat Emisi Baru, Tembus Rp216 Triliun di Awal 2026
IHSG Pacu Kembali ke Level 9.000, Transaksi Saham Melonjak 48%
IHSG Tembus 9.000, Rekor Baru dan Euforia Investor Warnai Awal 2026
Data Tenaga Kerja AS Mengejutkan, Wall Street Malah Meroket