Harga CPO Terperosok Dihajar Permintaan Lesu dan Ringgit Menguat

- Jumat, 21 November 2025 | 16:15 WIB
Harga CPO Terperosok Dihajar Permintaan Lesu dan Ringgit Menguat

Harga minyak sawit mentah atau CPO kembali anjlok pada Jumat (21/11/2025). Tekanan datang dari dua sisi: permintaan yang benar-benar lembek dan ringgit yang justru menguat. Meski begitu, prospek penurunan produksi di bulan-bulan mendatang sedikit banyak meredam laju penurunan yang lebih dalam.

Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Januari tercatat merosot 1,42 persen ke level MYR 4.094 per ton. Pelemahan ini sekaligus mencatatkan penurunan mingguan sebesar 1,18 persen.

Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, mengonfirmasi situasi ini. "Permintaan yang lesu dan ringgit yang menguat terus menekan harga," ujarnya.

Tapi dia juga memberi catatan penting. Menurutnya, sektor produksi sekarang mulai masuk ke periode output yang lebih rendah. Karena itulah, harga masih bisa bertahan di level-level kunci tertentu dan tidak terjun bebas.

Data dari lembaga survei kargo sepertinya mendukung hal itu. Ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–20 November diperkirakan turun cukup signifikan, antara 14,1 persen sampai 20,5 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Di sisi lain, ringgit sebagai mata uang utama perdagangan CPO justru menguat 0,29 persen terhadap dolar AS. Bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, kondisi ini jelas bikin CPO terasa lebih mahal.

Komoditas pesaing juga tak menunjukkan performa bagus. Kontrak minyak kedelai teraktif di Dalian turun 1,04 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 1,03 persen. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai ikut merosot 0,51 persen. Padahal, biasanya pergerakan minyak sawit mengikuti tren minyak nabati lain karena persaingan ketat di pasar global.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia kembali melemah untuk sesi ketiga berturut-turut. Pelemahan ini dipicu dua hal: desakan AS untuk kesepakatan damai Rusia-Ukraina yang berpotensi menambah pasokan minyak global, plus ketidakpastian soal arah suku bunga AS yang bikin investor engkap mengambil risiko.

Kondisi minyak mentah yang lemah seperti ini berdampak langsung. Minyak sawit jadi kurang menarik untuk dijadikan bahan baku biodiesel, dan itu semakin menambah daftar tekanan bagi harganya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar