Harga minyak sawit mentah atau CPO kembali anjlok pada Jumat (21/11/2025). Tekanan datang dari dua sisi: permintaan yang benar-benar lembek dan ringgit yang justru menguat. Meski begitu, prospek penurunan produksi di bulan-bulan mendatang sedikit banyak meredam laju penurunan yang lebih dalam.
Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Januari tercatat merosot 1,42 persen ke level MYR 4.094 per ton. Pelemahan ini sekaligus mencatatkan penurunan mingguan sebesar 1,18 persen.
Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, mengonfirmasi situasi ini. "Permintaan yang lesu dan ringgit yang menguat terus menekan harga," ujarnya.
Tapi dia juga memberi catatan penting. Menurutnya, sektor produksi sekarang mulai masuk ke periode output yang lebih rendah. Karena itulah, harga masih bisa bertahan di level-level kunci tertentu dan tidak terjun bebas.
Data dari lembaga survei kargo sepertinya mendukung hal itu. Ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–20 November diperkirakan turun cukup signifikan, antara 14,1 persen sampai 20,5 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Artikel Terkait
IHSG Tembus 9.000, Rekor Baru Tercipta di Tengah Antisipasi Laporan APBN
APBN 2025 Tutup Buku dengan Defisit Rp 695 Triliun
Lifting Minyak Tembus Target, Gas Bumi Masih Terseok
Program MBG Dituding Sebabkan Susu UHT Langka di Minimarket