Di sisi lain, ringgit sebagai mata uang utama perdagangan CPO justru menguat 0,29 persen terhadap dolar AS. Bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, kondisi ini jelas bikin CPO terasa lebih mahal.
Komoditas pesaing juga tak menunjukkan performa bagus. Kontrak minyak kedelai teraktif di Dalian turun 1,04 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 1,03 persen. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai ikut merosot 0,51 persen. Padahal, biasanya pergerakan minyak sawit mengikuti tren minyak nabati lain karena persaingan ketat di pasar global.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia kembali melemah untuk sesi ketiga berturut-turut. Pelemahan ini dipicu dua hal: desakan AS untuk kesepakatan damai Rusia-Ukraina yang berpotensi menambah pasokan minyak global, plus ketidakpastian soal arah suku bunga AS yang bikin investor engkap mengambil risiko.
Kondisi minyak mentah yang lemah seperti ini berdampak langsung. Minyak sawit jadi kurang menarik untuk dijadikan bahan baku biodiesel, dan itu semakin menambah daftar tekanan bagi harganya.
Artikel Terkait
Pasar Modal Indonesia Pecahkan Rekor: Investor Tembus 20 Juta, Likuiditas Didominasi Ritel
OWK PACK Picu Saham Melonjak, Sentuh ARA Keenam Hari Berturut-turut
Astra Lanjutkan Bantuan Tahap Kedua untuk Korban Banjir Bandang Sumatra
OJK Pastikan Stabilitas Sektor Keuangan Nasional Bertahan Hingga 2025