Percepatan Penyaluran Kredit Jadi Prioritas Bank Indonesia untuk Dongkrak Ekonomi 2026
Likuiditas Melimpah Tak Diimbangi Ekspansi Kredit, Suku Bunga Masih Jadi Kendala Utama
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menekankan pentingnya akselerasi pertumbuhan kredit perbankan sebagai strategi utama mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (19/11), menyusul lambatnya pemulihan penyaluran kredit hingga Oktober 2025.
Kinerja Kredit Masih Lesu
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2025 hanya mencapai 7,36 persen year-on-year, mengalami perlambatan dari posisi September di angka 7,70 persen. Fenomena ini terjadi meskipun likuiditas perbankan berada dalam kondisi lebih dari memadai.
"Pertumbuhan kredit perbankan perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," tegas Perry Warjiyo dalam paparan resminya.
Pelemahan kinerja kredit ini tidak terlepas dari sikap hati-hati pelaku usaha yang masih menahan ekspansi bisnis. Sektor korporasi lebih memilih mengoptimalkan pendanaan internal dibandingkan mengambil pembiayaan dari perbankan.
Fakta lain yang mengemuka adalah besarnya fasilitas pinjaman yang belum dicairkan. Posisi undisbursed loan per Oktober 2025 tercatat mencapai Rp 2.450,7 triliun atau setara dengan 22,97 persen dari total plafon kredit yang disetujui perbankan.
Kapasitas Longgar vs Penyaluran Terhambat
Paradoks terlihat jelas dalam kondisi perbankan nasional. Di satu sisi, kapasitas penyaluran kredit sangat longgar dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) naik menjadi 29,47 persen. Di sisi lain, penyaluran kredit justru mengalami kontraksi di beberapa segmen.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,48 persen year-on-year pada Oktober 2025, didorong oleh ekspansi keuangan pemerintah dan kebijakan pelonggaran likuiditas BI. Namun, kredit UMKM justru terkontraksi tipis menjadi minus 0,11 persen year-on-year, mencerminkan tingginya risiko yang masih membayangi segmen ini.
Strategi Insentif Likuiditas Makroprudensial
Artikel Terkait
Harga Minyak Diprediksi Tertekan hingga 2026, Baru Pulih Setelahnya
Pasar Tenaga Kerja AS Mandek, Tapi Tingkat Pengangguran Justru Menyusut
Beras untuk Rakyat 2026 Dijamin Aman, Stok Bulog Capai 3,2 Juta Ton
Iran di Ambang Perubahan: Krisis Ekonomi dan Gejolak Sosial Menggerus Fondasi Republik Islam