Intinya, mobilitas sel adalah segalanya. Kemampuan bergeraknya itu yang menentukan apakah rambut kita tetap berwarna atau memutih.
Masa Depan Tanpa Uban?
Meski percobaan dilakukan pada tikus, para ilmuwan cukup yakin mekanisme serupa terjadi pada manusia. Optimisme ini bukan tanpa alasan.
Qi Sun, peneliti utama studi tersebut, menyatakan, "Mekanisme baru ini meningkatkan kemungkinan bahwa posisi sel punca melanosit yang 'macet' juga terjadi pada manusia."
Kalau dugaan ini benar, implikasinya besar. Bukan cuma teori belaka. Ini membuka pintu untuk terapi baru yang sama sekali berbeda dari sekadar mengecat rambut. Fokusnya adalah mengobati akar masalah: membantu sel-sel yang macet itu bergerak lagi.
"Jika sel-sel yang macet itu bisa dibantu untuk bergerak lagi di antara kompartemen folikel rambut, ini berpotensi membalikkan atau mencegah uban pada manusia," tambah Sun.
Rencana selanjutnya sudah jelas. Tim dari NYU ini ingin mencari cara. Entah dengan memulihkan mobilitas sel McSCs yang sudah lelah, atau secara fisik mengembalikannya ke kompartemen benih tempat mereka bisa bekerja. Bayangkan, rambut hitam alami yang kembali tumbuh bukan dari botol cat, tapi dari pemulihan fungsi biologis tubuh sendiri. Itu bukan lagi mimpi di siang bolong, melainkan target ilmiah yang sedang digarap serius.
Artikel Terkait
Separuh Umat Manusia Terancam Terpanggang pada 2050
Blibli Gelar Double Day 2.2, Diskon 22% Siapkan Ramadan Tanpa Ribet
iPhone 16 Kuasai Pasar Global 2025, Samsung Tak Mau Kalah di Segmen Android
Dominasi Mutlak: Sepuluh Besar Universitas AI Dunia Kini Semuanya dari China