Peta kekuatan riset kecerdasan buatan global tampaknya sedang bergeser. Data terbaru dari CSRankings, sebuah pemeringkatan yang cukup diperhitungkan, menunjukkan fenomena yang mencolok: sepuluh besar universitas terbaik dunia untuk bidang AI kini semuanya berasal dari China. Amerika Serikat dan Eropa, yang lama dianggap sebagai kiblat, mulai tertinggal di belakang.
Peking University memimpin dengan menduduki posisi puncak. Tak kalah sengit, Tsinghua University mengikuti sangat ketat, berbagi tempat di peringkat kedua.
Dominasi ini benar-benar tak terbantahkan. Jajaran teratas kemudian diisi oleh sederet nama besar dari Negeri Tirai Bambu: Shanghai Jiao Tong University, University of Science and Technology of China (USTC), Nanjing University, Chinese Academy of Sciences, hingga Harbin Institute of Technology. Hasil ini bukan kebetulan, melainkan cerminan dari konsistensi dan skala produksi riset AI China dalam beberapa tahun terakhir.
Lalu, di mana posisi para pendahulu? Carnegie Mellon University di AS, yang puluhan tahun jadi rujukan utama dunia, kini harus puas di peringkat ke-14. University of Illinois at Urbana-Champaign bahkan turun ke posisi 18.
Kondisi Eropa mungkin lebih memprihatinkan. Tak satu pun universitasnya masuk dalam 20 besar. University of Edinburgh, yang kerap disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di benua itu, baru muncul di urutan ke-26. Pergeseran ini terasa sangat signifikan.
Tak Hanya AI, Ilmu Komputer Juga Dikuasai
Di sisi lain, CSRankings juga merilis peringkat untuk ilmu komputer secara keseluruhan. Dan sekali lagi, hasilnya mengejutkan. Shanghai Jiao Tong University dan Tsinghua University berbagi posisi pertama dunia. Ini adalah kali pertama Shanghai Jiao Tong University memimpin klasemen global.
Yang menarik, enam dari sepuluh kursi teratas diisi universitas China. Zhejiang University bahkan berhasil menggeser Carnegie Mellon University dari podium ketiga. Peking University menyusul di posisi kelima.
Di luar China, hanya satu perwakilan dari Asia Tenggara yang berhasil menembus elit sepuluh besar: National University of Singapore (NUS) di peringkat kedelapan. Pencapaian NUS ini tentu saja luar biasa, meski tetap tenggelam dalam lautan dominasi China.
Lantas, apa yang membuat pemeringkatan ini berbeda? CSRankings mengklaim metodologinya murni berbasis metrik objektif. Mereka menghitung jumlah dan kualitas publikasi riset para dosen di konferensi dan jurnal terkemuka dunia. Sistem ini sengaja menghindari survei reputasi atau penilaian subjektif yang biasa dipakai pemeringkat seperti U.S. News and World Report.
Artinya, hasil ini lebih menggambarkan produktivitas dan dampak riil di lapangan. Bukan sekadar gengsi nama besar yang mungkin sudah kadaluarsa. Sebuah perubahan perspektif yang, bagi banyak pihak, terasa lebih jujur.
Artikel Terkait
Google Sediakan Fitur Bawaan Lacak, Kunci, hingga Hapus Data Ponsel Android yang Hilang
WhatsApp Bisa Diakses Tanpa Scan Kode QR, Pakar Ingatkan Risiko Penyadapan dan Pelanggaran Privasi
YouTube Batasi Akses Pengguna di Bawah 16 Tahun di Indonesia Patuhi PP Tunas
Peneliti Temukan Spesies Baru Laba-laba Hantu di Habitat Bambu Jawa