Separuh Umat Manusia Terancam Terpanggang pada 2050

- Selasa, 03 Februari 2026 | 10:12 WIB
Separuh Umat Manusia Terancam Terpanggang pada 2050

Lalu bagaimana dengan negara-negara beriklim dingin? Mereka pun tak lepas dari perubahan. Di sana, masyarakat harus beradaptasi dengan hari-hari panas yang datang lebih lama. Yang mencengangkan, peningkatan pemanasan di beberapa wilayah bahkan bisa melonjak lebih dari dua kali lipat.

Ambil contoh perbandingan dengan periode 2006-2016, saat kenaikan suhu rata-rata global ‘baru’ 1°C. Riset ini memproyeksikan, pemanasan 2°C akan menggandakan dampak di Austria dan Kanada. Inggris, Swedia, dan Finlandia bakal mengalami kenaikan 150%. Norwegia 200%. Sementara Irlandia bisa menghadapi peningkatan hingga 230%.

Nyatanya, sebagian besar dampak ini bukan cerita masa depan yang jauh. Menurut para peneliti, efeknya bisa dirasakan lebih awal, tepat saat Bumi melewati ambang batas 1,5°C dari Perjanjian Paris. Data menunjukkan, pada 2010 saja, 23% populasi global sudah hidup dalam suhu ekstrem. Angka itu diprediksi melonjak drastis jadi 41% dalam beberapa dekade mendatang.

Di sisi lain, permintaan akan sistem pendingin ruangan bakal meledak. Ini membutuhkan langkah mitigasi yang signifikan dan harus dimulai dari sekarang. Bisa jadi, dalam lima tahun ke depan, memasang AC menjadi kebutuhan banyak rumah. Tapi masalahnya, suhu bumi akan terus naik jauh setelah itu jika kita mencapai pemanasan 2°C.

Intinya, waktu hampir habis. Para ilmuwan mendesak politisi dan pemerintah di seluruh dunia untuk turun tangan. Intervensi yang serius dan segera mutlak diperlukan untuk mencegah skenario terburuk ini. Kalau tidak, separuh umat manusia akan terpanggang di planet mereka sendiri.


Halaman:

Komentar