Keindahan Pantai Kuta, Bali, ternoda. Bukan oleh awan mendung, melainkan oleh tumpukan sampah yang memenuhi garis pantainya. Seorang turis asal Jerman, Nuri, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Dewata, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Kami baru berjalan dari ujung pantai. Sampahnya sangat banyak, benar-benar di mana-mana," ujarnya, Selasa (3/2). "Menyedihkan sekali melihatnya."
Nuri dan dua temannya datang ke Kuta untuk mencari udara segar. Tapi yang mereka temukan justru pemandangan yang memilukan. Dia mengaku sering melihat sampah di pantai-pantai lain, seperti di Turki atau Singapura. Namun, yang di Kuta ini berbeda. Levelnya jauh lebih parah.
"Kami sudah jelajahi banyak pantai, Filipina juga. Sampah di laut dan pantai memang selalu ada. Tapi di sini... rasanya lain," sambung Nuri dengan nada frustrasi. "Mungkin ini pantai dengan sampah terbanyak yang pernah kami lihat. Sungguh menyedihkan."
Baginya, akar masalahnya jelas: ulah manusia yang tak menghargai alam. Dan industri pariwisata, menurutnya, justru memperburuk keadaan. Dia punya pesan keras.
"Pemerintah tentu punya kewajiban membersihkan. Tapi itu percuma kalau orang tak berhenti buang sampah sembarangan. Mereka tak mungkin mengumpulkan semuanya! Orang-orang harus sadar, mereka tidak boleh lagi membuang sampah seenaknya."
Bukan Hal Baru, Tapi Tetap Merepotkan
Di sisi lain, pemda setempat punya penjelasan. IB Gede Arjana, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Badung, menyebut ini fenomena musiman. Sudah biasa terjadi setiap musim barat, yang berlangsung dari November hingga Maret.
Arjana menegaskan, sampah-sampah itu kebanyakan kiriman dari luar Bali. Terbawa arus ombak dan akhirnya terdampar di pesisir Kuta.
Meski ratusan petugas dikerahkan tiap hari untuk berjibaku membersihkan, mereka tetap kewalahan. Volumenya terlalu besar dan datang terus-menerus.
"Kalau ditanya apakah tenaga kami cukup? Jelas masih kurang," akunya. "Volume sampah ini sangat tinggi. Kami kewalahan, belum lagi ditambah urusan sampah perkotaan dan desa."
Proses penanganannya berlapis. Sampah yang terkumpul dipilah dulu. Yang organik dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu. Sementara plastik dan sejenisnya berakhir di TPA Suwung.
Untuk sampah kayu, ada penanganan khusus. "Kayu-kayu kami potong dan akan dibawa ke mesin woodchipper di Mengwitani," jelas Arjana. "Hasil cacahannya bisa untuk kompos atau media tanam. Alatnya sudah kami siapkan."
Jadi, di balik pemandangan yang mengganggu itu, ada pertarungan harian yang melelahkan. Antara petugas kebersihan dan gunungan sampah yang seolah tak ada habisnya.
Artikel Terkait
PNUP Jatuhkan Sanksi Berlapis ke Dosen Terbukti Kekerasan Seksual, Turun Pangkat hingga Dilarang Masuk Kampus
Orang Tua Kapten Kapal MT Honour 25 Cemas, Pemerintah Upayakan Mediasi dengan Perompak Somalia
Pria Diduga Gangguan Jiwa Gali Makam di Simalungun, Jenazah Korban Ditemukan 15 Meter dari Liang Lahat
Met Gala 2026 Usung Tema ‘Fashion Is Art’, Beyoncé hingga Rihanna Curi Perhatian