Honda Vario 125 Pilih Rangka Tubular, Ini Alasan Teknis di Baliknya

- Kamis, 04 Desember 2025 | 06:24 WIB
Honda Vario 125 Pilih Rangka Tubular, Ini Alasan Teknis di Baliknya

Peluncuran all new Honda Vario 125 sempat memantik pertanyaan. Kenapa, sih, rangka eSAF yang sudah dipakai Vario 160 justru tidak diadopsi di model 125 cc ini? Ternyata, jawabannya lebih ke soal kecocokan teknis ketimbang sekadar mengikuti tren.

Menurut Hikaru Yokomura, Large Project Leader untuk Vario 125 dari Honda R&D Southeast Asia, pemilihan rangka tubular atau pipe frame itu bukan tanpa alasan. Semuanya berangkat dari karakter mesin yang dipakai.

"Rangka yang digunakan bukan eSAF, kami menggunakan pipe frame," ujar Hikaru dalam peluncuran di Cikarang belum lama ini.

Ia melanjutkan, "Kenapa kami menggunakan pipe frame? Karena disesuaikan dengan kebutuhan engine, sehingga melengkapi dengan engine yang digunakan. Satu paket."

Intinya, rangka dan mesin harus dilihat sebagai satu kesatuan. Kalau dipaksakan, performa optimal bisa-bisa tidak tercapai. Nah, untuk Vario 125 yang fokusnya ke keseimbangan tenaga dan efisiensi buat harian, kombinasi mesin eSP dengan rangka tubular dinilai lebih ideal.

"Jadi saya mempertimbangkan tidak hanya dengan engine. Tetapi juga kombinasi frame yang ada," jelasnya.

Keputusan ini ternyata membawa dampak positif. Hasilnya, bobot motor turun sekitar 300 gram dibanding generasi sebelumnya. Memang sih, angkanya tidak besar, tapi buat manuver di jalanan padat, setiap gram yang berkurang pasti terasa. Pengendalian jadi lebih ringan dan responsif.

Di sisi lain, Honda juga tak lupa menyuntikkan sejumlah pembaruan lain. Desain bodi dibuat lebih tajam dan agresif, lampu depan-belakang direvisi. Untuk urusan kenyamanan, fitur smart key dan port USB Type C sekarang jadi standar di semua varian. Cukup praktis untuk gaya hidup sekarang.

Lalu, bagaimana dengan mesinnya? Tenang, Vario 125 tetap mengandalkan mesin 125 cc berpendingin cairan (liquid-cooled) eSP. Yang menarik, efisiensinya diklaim lebih baik. Hasil uji internal Honda menyebutkan, motor ini bisa mencapai 51,7 km per liter. Angka yang cukup menggiurkan, apalagi di tengah harga BBM yang naik turun.

Jadi, meski tanpa rangka eSAF, pilihan Honda ini rupanya hasil pertimbangan matang. Mereka lebih memilih kecocokan teknis yang menghasilkan paket kompak dan ringan, ketimbang sekadar mengejar spesifikasi yang terdengar mentereng.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar