Pertumbuhan industri pembiayaan digital, khususnya layanan buy now pay later (BNPL), masih menunjukkan tren positif yang dimanfaatkan oleh para pemain untuk memperluas jangkauan pasar. PT Indodana Multi Finance, salah satu perusahaan pembiayaan, mencatatkan lonjakan aset yang signifikan dalam dua tahun terakhir, seiring dengan prospek cerah sektor tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, total aset Indodana meningkat hampir empat kali lipat. Nilainya melesat dari Rp711 miliar pada 2023 menjadi Rp1,49 triliun pada 2024, dan kembali meroket menjadi Rp2,83 triliun pada 2025. Pertumbuhan ini tidak terlepas dari penyaluran pembiayaan yang masif, terutama ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga 2025, perusahaan telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp765 miliar kepada UMKM, atau setara dengan 98,99 persen dari total piutang pembiayaan produktif.
Memanfaatkan momentum positif ini, Indodana turut serta dalam gelaran Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2026. Langkah ini diambil untuk memperluas basis nasabah sekaligus mendorong volume transaksi. Direktur Indodana Multi Finance, Iwan Dewanto, menyatakan bahwa antusiasme masyarakat terhadap pameran tahunan tersebut sangat tinggi.
“Kami melihat antusiasme masyarakat terhadap Jakarta Fair sangat tinggi. Karena itu, kami hadir untuk memberikan alternatif pembayaran yang praktis sekaligus mendorong inklusi keuangan melalui layanan paylater yang bijak dan bertanggung jawab,” ujar Iwan kepada media, Senin (15/6/2026).
Ia menambahkan bahwa masyarakat dapat menikmati seluruh pengalaman tersebut dengan lebih nyaman, aman, fleksibel, dan menguntungkan. Hal ini didukung oleh lebih dari 60 merchant partner serta berbagai promo yang dihadirkan. Melalui strategi tersebut, Indodana berharap dapat memperkuat posisinya di industri pembiayaan digital sekaligus menangkap peluang dari meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap solusi pembayaran yang fleksibel.
Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa industri BNPL secara nasional juga tumbuh pesat. Per April 2026, penyaluran pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp12,93 triliun, tumbuh 56,92 persen secara tahunan. Iwan menegaskan bahwa tren pertumbuhan ini masih kuat dan kualitasnya tetap terjaga.
“Jika dilihat dari pertumbuhan bisnis di industri pembayaran, BNPL perusahaan pembiayaan tumbuh 56,92 persen secara year on year. Kualitasnya juga terjaga,” jelasnya.
Sebelumnya, pada Maret 2026, pembiayaan BNPL tercatat sebesar Rp12,81 triliun dengan pertumbuhan 55,85 persen secara tahunan. Angka tersebut meningkat dari posisi Februari 2026 yang mencapai Rp12,59 triliun dengan pertumbuhan 53,53 persen. Namun, di sisi lain, OJK mencatat tingkat non-performing financing (NPF) gross BNPL sebesar 2,99 persen per April 2026, meningkat dibandingkan posisi 2,51 persen pada Maret 2026. Data ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan industri yang pesat tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko dan penerapan prinsip kehati-hatian.
Artikel Terkait
Pesawat Pengebom B-52 Jatuh Sesaat Setelah Lepas Landas di California, Delapan Tewas
Trump dan Iran Tandatangani Kesepakatan Awal Akhiri Konflik, Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali
Netanyahu Terjepit di Antara Ambisi Perang dan Tekanan Trump untuk Hentikan Konflik dengan Iran
Batik Air Resmi Layani Rute Jakarta–Muara Bungo, Dorong Konektivitas dan Ekonomi Jambi Barat