Gus Murtadho: Tragedi Flores Cermin Kegagalan Negara, Prabowo Bagian dari Sistem Bobrok

- Selasa, 03 Februari 2026 | 12:50 WIB
Gus Murtadho: Tragedi Flores Cermin Kegagalan Negara, Prabowo Bagian dari Sistem Bobrok

Gus Murtadho Soroti Tragedi Flores: Prabowo Bagian dari Sistem Bobrok, Bukti Negara Gagal

Kisah pilu seorang anak di Kampung Ngada, Flores, yang diduga mengakhiri hidupnya sendiri, memantik reaksi keras dari berbagai kalangan. Di antara suara-suara itu, ada aktivis Nahdlatul Ulama, Roy Murtadho, atau yang biasa disapa Gus Murtadho. Ia tak cuma berduka. Ia melihat tragedi ini sebagai cermin kegagalan negara yang telak.

Bagi Gus Murtadho, akar masalahnya adalah sistem yang sudah bobrok. Dan Presiden Prabowo Subianto, menurutnya, adalah bagian inti dari sistem itu. "Presiden Prabowo tidak bisa diharapkan. Kenapa? Karena ia bagian inti dari sistem yang bobrok ini. Kerusakan struktural di Indonesia melekat dengannya,"

Begitu tulisnya dalam sebuah pernyataan di media sosial, Selasa lalu.

Ia menilai, mustahil mengharapkan perubahan mendasar dari sosok yang justru terlibat dalam melanggengkan keadaan. Narasinya jelas: selama elite lama masih memegang kendali, keadilan sosial hanyalah mimpi.

Cerita tentang anak dari Flores itu sendiri sungguh menyayat hati. Di sekolah, ia dikenal cerdas dan ramah. Tapi tekanan hidup yang menderanya ternyata terlalu berat. Sebelum meninggal, katanya, ia hanya sempat menyampaikan satu permintaan sederhana pada ibunya.

"Ini bukan sekadar tragedi personal," tegas Gus Murtadho.

Ia melihatnya sebagai potret buram kegagalan negara dalam melindungi warganya yang paling rentan. Kemiskinan, ketimpangan yang menganga, dan perlindungan sosial yang minim semua itu adalah persoalan lama yang terus berulang, seolah tak ada solusi nyata.

Lalu, apa jalan keluarnya? Gus Murtadho pesimis dengan perubahan dari atas. Menurutnya, harapan satu-satunya justru terletak pada gerakan dari bawah.

"Kita memang tidak punya harapan selain penyatuan gerakan kelas pekerja lintas sektor untuk mewujudkan negara kesejahteraan dengan program redistribusi sumber daya," ujarnya.

Negara, dalam pandangannya, punya tugas utama: hadir untuk memastikan setiap warga, terutama anak-anak, bisa mengakses hak dasar. Pendidikan, kesehatan, dan jaminan hidup yang layak bukanlah kemewahan. Itu adalah kebutuhan pokok agar tragedi seperti di Flores tidak lagi terjadi berulang-ulang.

Tanpa itu, kata dia, negara ini hanya akan terus menyaksikan potret-potret keputusasaan yang sama.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar