"Ini bukan sekadar tragedi personal," tegas Gus Murtadho.
Ia melihatnya sebagai potret buram kegagalan negara dalam melindungi warganya yang paling rentan. Kemiskinan, ketimpangan yang menganga, dan perlindungan sosial yang minim semua itu adalah persoalan lama yang terus berulang, seolah tak ada solusi nyata.
Lalu, apa jalan keluarnya? Gus Murtadho pesimis dengan perubahan dari atas. Menurutnya, harapan satu-satunya justru terletak pada gerakan dari bawah.
"Kita memang tidak punya harapan selain penyatuan gerakan kelas pekerja lintas sektor untuk mewujudkan negara kesejahteraan dengan program redistribusi sumber daya," ujarnya.
Negara, dalam pandangannya, punya tugas utama: hadir untuk memastikan setiap warga, terutama anak-anak, bisa mengakses hak dasar. Pendidikan, kesehatan, dan jaminan hidup yang layak bukanlah kemewahan. Itu adalah kebutuhan pokok agar tragedi seperti di Flores tidak lagi terjadi berulang-ulang.
Tanpa itu, kata dia, negara ini hanya akan terus menyaksikan potret-potret keputusasaan yang sama.
Artikel Terkait
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Sulawesi Selatan Sepanjang Hari Minggu
BRIN Prediksi El Nino Godzilla dan IOD Positif Ancam Ketahanan Pangan 2026
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Hampir Seluruh Sulawesi Selatan Minggu Depan
Video Keributan di Tempat Biliar Seret Nama Finalis Puteri Indonesia 2024