Bimbel dan Obsesi PTN: Ketika Pendidikan Hanya Jadi Ajang Strategi Lolos Ujian

- Senin, 02 Februari 2026 | 03:06 WIB
Bimbel dan Obsesi PTN: Ketika Pendidikan Hanya Jadi Ajang Strategi Lolos Ujian

Setiap tahun, ruang-ruang bimbel di penjuru kota menjadi saksi bisu sebuah perlombaan besar. Jutaan siswa SMA menghabiskan sore hingga larut malam di sana, berhadapan dengan buku soal dan layar proyektor. Targetnya cuma satu: lolos ke PTN favorit. Kompetisi ini sudah jadi ritual tahunan yang begitu mendarah daging.

Dalam dunia akademik, fenomena ini punya nama: Shadow Education atau Pendidikan Bayangan. Keberadaannya yang masif sebenarnya menyimpan ironi yang pahit. Di satu sisi, bimbel menjanjikan jalan pintas menuju kampus impian. Tapi di sisi lain, ada yang tercederai: ketangguhan mental dan yang lebih penting rasa penasaran intelektual siswa itu sendiri. Mereka dilatih untuk mengejar skor, bukan memahami esensi ilmu.

Menurut sejumlah pengamat, maraknya bimbel ini adalah bentuk ketidakpercayaan terselubung terhadap sekolah formal. Orang tua merasa materi di kelas biasa tak cukup ampuh untuk menggarap soal-soal ujian masuk PTN yang tingkat kesulitannya terkenal tinggi. Alhasil, pendidikan pun bergeser makna. Bukan lagi soal pendalaman, melainkan investasi strategi menjawab soal.

Nah, ini yang menarik. Kalau seorang siswa benar-benar punya minat mendalam pada suatu jurusan, katakanlah Sastra atau Kedokteran, bukankah seharusnya dorongan dari dalam dirinya yang membuatnya rajin belajar? Bukankah calon mahasiswa yang ideal adalah mereka yang mampu mengeksplorasi ilmu secara mandiri, bukan cuma mengandalkan rumus cepat dari lembaga les?

Realitanya, banyak bimbel justru menjual efisiensi. Mereka ahli menguliti pola soal, tapi sering gagal menumbuhkan kecintaan pada proses belajar itu sendiri. Dampaknya bisa kita duga: lahirnya apa yang kerap disebut "generasi karbitan". Mereka jago menembus gerbang kampus, tapi gagap saat harus bertahan di dalamnya.

Kemampuan mengerjakan seratus soal pilihan ganda dalam waktu terbatas jelas beda jauh dengan skill yang dibutuhkan untuk riset atau berpikir kritis. Dunia nyata tidak menyediakan pilihan A sampai E.


Halaman:

Komentar