Indonesia Bergerak dari Soft Love ke Hard Love dalam Aturan Main AI

- Minggu, 01 Februari 2026 | 09:06 WIB
Indonesia Bergerak dari Soft Love ke Hard Love dalam Aturan Main AI

Regulasi: Sabuk Pengaman, Bukan Rem Tangan

Buat sebagian pelaku industri, mendengar kata 'regulasi' langsung berasa berat. Seolah-olah inovasi akan langsung terpasung. Padahal, perspektif ini keliru.

Regulasi justru bisa memacu inovasi dengan memberi kepastian. Merve Hickok punya analogi yang bagus. Katanya, regulasi itu seperti sabuk pengaman di mobil. Fungsinya bukan untuk memperlambat laju kendaraan. Justru karena ada sabuk pengaman, pengemudi merasa aman untuk berkendara lebih cepat, tapi tetap terkendali.

Tanpa aturan main yang jelas, yang ada cuma ketidakpastian. Batasan yang tegas malah memungkinkan pelaku usaha dari korporasi raksasa sampai startup berkompetisi secara sehat. Bagi investor, ini jelas sinyal yang positif untuk menanamkan modal mereka.

Solusi Praktis: “Sandbox” untuk Eksperimen Aman

Lalu, gimana caranya berinovasi kalau aturannya ketat? Jawabannya mungkin ada pada konsep sandbox atau kotak pasir.

Ini adalah ruang uji coba yang terisolasi dan aman. Di dalamnya, organisasi bisa bereksperimen dengan model AI mereka. Mencoba 'merusaknya', menguji titik gagalnya, tanpa takut membahayakan data sensitif atau melanggar aturan di dunia nyata.

Konsep ini sangat relevan, baik untuk instansi pemerintah maupun swasta. Sebelum sebuah kebijakan atau produk finansial berbasis AI diluncurkan, ia harus diuji dulu di lingkungan aman ini. Semua risiko harus teridentifikasi dengan baik.

Menuju Ekosistem AI yang Dewasa

Masa 'bulan madu' dengan aturan sukarela pelan-pelan akan berakhir. Menyongsong 2026, Indonesia bergerak menuju tata kelola AI yang lebih matang.

Pergeseran dari 'soft love' ke 'hard love' ini bukan ancaman. Ini adalah langkah pendewasaan yang diperlukan. Bagi semua pemangku kepentingan, ini saatnya membenahi tata kelola internal.

Karena pada akhirnya, tata kelola yang baik bukan cuma soal mematuhi hukum. Itu adalah strategi untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan publik. Di era digital seperti sekarang, kepercayaan adalah mata uang dengan nilai tertinggi. Pertanyaannya, sudah siapkah kita?


Halaman:

Komentar