Isu rencana Donald Trump mengambil alih Greenland kembali mencuat. Tapi kali ini, para peneliti iklim justru was-was. Mereka khawatir, ambisi politik semacam itu justru bisa memperparah ancaman perubahan iklim global yang sudah di depan mata.
Greenland itu bukan cuma hamparan es dan salju yang dingin. Wilayah ini menyimpan harta karun yang luar biasa. Ambil contoh meteorit Cape York yang legendaris itu, bongkahan besi seberat 58 ton. Robert Peary, sang penjelajah, membawanya keluar pada 1897 dengan bantuan pemandu Inuit, lalu menjualnya ke AS.
Padahal, masyarakat lokal sudah memanfaatkan pecahan meteorit itu selama berabad-abad untuk membuat alat berburu. Peary, dengan begitu saja, mengambil sumber daya itu dari tangan mereka. Hasil penjualannya? Jika dihitung sekarang, nilainya cuma sekitar 1,5 juta dolar AS. Cukup murah untuk sebuah warisan alam yang tak ternilai.
Nah, sekarang Trump nampaknya tak cuma mengincar meteorit. Wacananya untuk mengambil alih Greenland bahkan dengan paksa menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan. Dari sekadar urusan dagang, menjadi soal dominasi dan kekuasaan.
Martin Siegert, Wakil Rektor University of Exeter, memperingatkan dampaknya bakal jauh lebih luas. “Ini bukan cuma masalah politik,” katanya. Biayanya bisa sangat mahal, terutama bagi ilmu pengetahuan. Pengambilalihan sepihak oleh AS berpotensi memutus kolaborasi ilmiah terbuka yang selama ini membantu kita memahami ancaman kenaikan permukaan laut.
Memang, Greenland punya kedaulatan hampir penuh, meski pertahanan dan luar negerinya masih di bawah Denmark. Itu artinya, mereka juga berada dalam payung NATO. Seperti negara berdaulat lainnya, akses ke daratan dan perairannya diatur ketat melalui sistem izin. Semua penelitian dan aktivitas harus mengikuti aturan itu.
Selama puluhan tahun, Greenland terbuka bagi ilmuwan dari seluruh dunia. Mereka datang untuk meneliti arsip alam yang tersimpan rapi di dalam es, batuan, dan dasar lautnya. Peneliti AS sendiri termasuk yang paling diuntungkan. Mereka melakukan berbagai studi, dari mengebor es dalam untuk mengungkap sejarah iklim Bumi, hingga membantu misi NASA memetakan daratan di balik lapisan es.
“Dunia berutang besar pada Greenland dan Amerika Serikat atas kemajuan ilmu pengetahuan ini,” tegas Martin dalam sebuah tulisan. “Kerja sama yang terbuka dan adil seperti ini harus terus berlanjut.”
Taruhannya Sangat Besar
Bayangkan, sekitar 80 persen wilayah Greenland tertutup es. Jika semuanya mencair, permukaan laut global bakal naik sekitar 7 meter setinggi rumah dua lantai! Saat dunia semakin panas, pencairan es ini makin cepat. Air tawar dalam jumlah masif dilepaskan ke Atlantik Utara, berpotensi mengacaukan sirkulasi samudra yang selama ini menstabilkan iklim belahan bumi utara.
Lalu, 20 persen wilayah lainnya yang tak tertutup es? Luasnya kira-kira sebesar Jerman. Di sanalah tersimpan kekayaan mineral yang sangat besar. Tapi secara ekonomi, sumber daya ini seharusnya dipakai untuk mendukung transisi energi hijau, bukan malah memperpanjang napas bahan bakar fosil.
Artikel Terkait
Sony LinkBuds Clip Resmi Hadir, Tren Open Ear Kini Makin Nyata
Telkomsel Pamerkan Kiprah Digital Indonesia di Panggung Elite Davos
Blibli Buka Toko Fisik, Klaim Bisa Atasi Pusing Belanja Online
Oppo Resmi Luncurkan Reno 15 Series di Indonesia, Harga Mulai Rp 5,5 Jutaan