2026: Titik Nadir bagi Keajaiban Bawah Laut?

- Jumat, 09 Januari 2026 | 12:42 WIB
2026: Titik Nadir bagi Keajaiban Bawah Laut?

Tapi, tidak semua cerita berakhir suram. Beberapa karang menunjukkan ketahanan yang mengagumkan. Misalnya, karang di Teluk Aqaba dan perairan Madagaskar terbukti cukup tangguh menghadapi gelombang panas 2023-2024. Ini menunjukkan adanya ketahanan alami pada komunitas tertentu.

Selain itu, ada harapan dari kedalaman. Terumbu mesofotik, yang berada di kedalaman 30 hingga 50 meter, terlindungi oleh lapisan air yang lebih dingin saat gelombang panas melanda. Mereka berpotensi menjadi "bank benih" untuk memulihkan wilayah yang rusak di permukaan.

Musuhnya Bukan Cuma Panas

Meski suhu adalah ancaman utama, tekanan lokal memperparah keadaan. Polusi, penangkapan ikan berlebihan, dan pembangunan pesisir yang tak terkendali membuat karang semakin rentan. Kabar baiknya, mengurangi tekanan-tekanan ini terbukti membantu pemulihan.

Lihatlah contoh Terumbu Karang Mesoamerika. Meski 40 persen arealnya memutih pada 2024, beberapa bagian menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Ini terjadi setelah populasi ikan pulih berkat pengelolaan perikanan yang lebih ketat.

Ancaman diam-diam lainnya adalah pengasaman laut. Laut menyerap karbon dioksida berlebih dari atmosfer, yang membuat air lebih asam. Kondisi ini menyulitkan karang membangun kerangka kerasnya, memperlambat pertumbuhan, dan melemahkan strukturnya. Bahkan karang laut dalam yang terhindar dari pemutihan pun tak luput dari ancaman ini.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Menurut para ahli, setidaknya ada tiga langkah krusial untuk memberi peluang bertahan pada karang di abad ini.

Pertama, memotong emisi karbon secara agresif. Ini mutlak untuk meredam suhu laut.

Kedua, serius menangani tekanan lokal seperti polusi dan penangkapan ikan berlebih.

Ketiga, mengembangkan restorasi karang dengan seleksi genetik, membiakkan jenis karang yang lebih tahan banting terhadap panas.

Tanpa aksi serius di ketiga front ini, kita berisiko kehilangan salah satu keajaiban alam paling vital di planet biru ini. Dan itu bukan hanya kerugian ekologis, tapi juga kehilangan sebuah keindahan yang tak tergantikan.


Halaman:

Komentar