Di sinilah menariknya. Sistem yang memanen energi manusia justru paling efektif di lokasi padat penduduk. Semakin ramai, semakin besar potensi energinya. Ini seperti membalik anggapan umum bahwa kepadatan selalu merugikan.
Ditambah lagi dengan teknologi sensor dan IoT, sistem ini bisa beradaptasi. Ia bisa membaca pola keramaian, tahu kapan jam sibuk, atau saat ada acara besar. Kota bukan lagi tempat pasif, tapi entitas yang bisa "merasakan" denyut warganya.
Pelengkap yang Berarti
Jelas, ini bukan solusi ajaib pengganti pembangkit listrik konvensional. Perannya lebih sebagai penyokong. Tapi kontribusinya nyata. Sedikit demi sedikit, beban pada jaringan listrik utama bisa diringankan.
Dan ada nilai lain yang mungkin lebih penting: peningkatan kesadaran. Saat orang paham bahwa langkah kakinya bisa menghidupkan sebuah lampu, hubungan mereka dengan energi menjadi lebih personal dan langsung.
Masa Depan Energi Ternyata Sangat Dekat
Jadi, energi terbarukan tak melulu soal mengeksploitasi alam. Ia bisa hadir dari aktivitas manusia yang paling biasa. Potensi besar itu seringkali terlewat karena kita tak melihatnya dengan cara yang tepat.
Ke depan, bukan tidak mungkin kita tak lagi sekadar pengguna energi. Kita akan menjadi bagian integral dari sistem energi itu sendiri. Sebuah konsep yang sederhana, tapi revolusioner.
Artikel Terkait
Blibli Gelar Double Day 2.2, Diskon 22% Siapkan Ramadan Tanpa Ribet
iPhone 16 Kuasai Pasar Global 2025, Samsung Tak Mau Kalah di Segmen Android
Dominasi Mutlak: Sepuluh Besar Universitas AI Dunia Kini Semuanya dari China
Undan Kacamata: Sang Penjelajah dengan Paruh Fantastis