Usia 30-an Tiba, Energi Pria Mulai Loyo? Ini 5 Penyebab Utamanya

- Rabu, 17 Desember 2025 | 18:18 WIB
Usia 30-an Tiba, Energi Pria Mulai Loyo? Ini 5 Penyebab Utamanya

Di usia dua puluhan, rasanya tubuh punya tenaga tak terbatas. Bekerja seharian, lalu lanjut nongkrong atau olahraga malam? Bisa saja. Tapi begitu umur menyentuh angka 30, banyak pria mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Stamina tak lagi seperkasa dulu.

Badan jadi gampang capek, padahal aktivitasnya biasa saja. Napas mudah tersengal, tubuh terasa berat untuk diajak bergerak. Kalau kamu sering merasakannya, tenang, kamu nggak sendirian.

Memasuki usia 30, penurunan energi dan vitalitas itu hal yang alami. Ada penjelasan ilmiah di baliknya, terutama soal perubahan hormon, otot, dan metabolisme tubuh.

Kenapa Energi Bisa Turun di Usia 30-an? Ini Tanda dan Penyebabnya

Penurunannya seringkali dimulai dari hal-hal kecil yang kadang kita abaikan. Misalnya, rasa lelah yang nggak hilang meski sudah tidur cukup, mood yang gampang berubah, atau susah fokus. Nah, dengan memahami akar masalahnya, kita bisa lebih sigap mengambil langkah pencegahan.

1. Hormon Testosteron Mulai Menurun

Testosteron punya peran krusial buat pria: menjaga stamina, massa otot, gairah seks, sampai kestabilan emosi. Sayangnya, seiring waktu, produksinya pelan-pelan menyusut.

Menurut Mayo Clinic, sejak usia 30, kadar testosteron bisa turun sekitar satu persen per tahun. Penurunan inilah yang bikin kita gampang lelah dan dorongan seksual ikut berkurang.

2. Massa Otot yang Berkurang

Ini juga fakta yang perlu dicermati. Setelah umur 30, tubuh pria mulai kehilangan massa otot. Sebuah jurnal dari Harvard Health Publishing menyebutkan, kita bisa kehilangan 3-5 persen massa otot per dekade. Kalau diakumulasi, seumur hidup bisa mencapai 30 persen.

Dampaknya? Aktivitas sehari-hari seperti mengangkat barang atau olahraga ringan jadi terasa lebih melelahkan. Proses pemulihan dari cedera otot juga butuh waktu lebih lama.

3. Gaya Hidup yang Cenderung Pasif

Rutinitas kerja seringkali memaksa kita duduk berlama-lama. Minimnya aktivitas fisik bikin metabolisme melambat dan daya tahan otot menurun. Gaya hidup kurang gerak ini juga pengaruhi keseimbangan hormon, termasuk testosteron. Akibatnya, tubuh gampang lemas dan fokus pun buyar.

4. Beban Stres dan Kelelahan Mental

Di usia 30-an, tekanan dari berbagai sisi kehidupan kerap datang bertubi-tubi. Namun begitu, berdasarkan laporan Beyond Blue di Australia, hanya 37 persen pria yang mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental mereka.

Padahal, stres yang berkepanjangan memaksa otak dan tubuh bekerja ekstra keras, bahkan saat kita sedang diam. Hormon kortisol meningkat dan seringkali mengganggu kualitas tidur, yang ujung-ujungnya memperparah rasa lelah.

5. Asupan Nutrisi yang Tidak Optimal

Tubuh butuh bahan bakar berkualitas dari makanan. Kalau asupan nutrisinya kurang, proses pembentukan energi jadi nggak maksimal. Hasilnya, badan lemas dan daya tahan menurun meski aktivitas fisik biasa saja.

Selain memperbaiki pola makan dan gaya hidup, beberapa pria memilih untuk mengonsumsi suplemen tambahan berbahan alami sebagai pendamping.

Salah satu alternatif yang tersedia adalah EROJAN dari Wellous Indonesia. Produk obat tradisional ini memadukan beberapa ekstrak tanaman herbal yang dikenal untuk mendukung stamina pria, seperti Tongkat Ali, Maca, Horny Goat Weed, dan Tribulus.

Masing-masing herbal punya peran spesifik. Tongkat Ali misalnya, dikenal untuk mendukung stamina dan keseimbangan hormon testosteron. Sementara Maca membantu kemampuan fisik, dan Tribulus diambil untuk mendukung kualitas sperma serta testosteron.

Suplemen ini bisa jadi pilihan untuk pria aktif, yang mobilitasnya tinggi, atau mereka yang ingin menjaga performa tubuh tetap optimal di atas usia 30. EROJAN bisa berperan sebagai pendamping untuk menjaga stamina dan membantu keseimbangan hormon.

Produk ini sudah terdaftar di BPOM dan memiliki sertifikasi halal. Untuk aturan pakai dan informasi lebih detail, kamu bisa mencarinya langsung melalui website atau akun Instagram resminya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar