DPRD DKI Jakarta menempatkan pengelolaan sampah sebagai salah satu agenda strategis pembangunan daerah, mengingat volume sampah yang dihasilkan ibu kota telah mencapai sekitar 9.000 ton per hari. Angka ini mendorong dewan untuk merumuskan langkah-langkah konkret guna mewujudkan Jakarta yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Sejumlah strategi pun didorong, mulai dari penguatan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, optimalisasi bank sampah, peningkatan fasilitas pengolahan, hingga pemanfaatan teknologi modern. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus mendukung target pengurangan sampah secara signifikan.
Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, menyatakan kesiapannya untuk mengurai persoalan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Menurutnya, terdapat empat program prioritas yang menjadi fokus utama, yakni sarana dan prasarana, regulasi, teknologi, serta pembenahan manajemen armada.
Salah satu sorotan tajam Pansus adalah minimnya sarana dan prasarana penunjang pemilahan sampah di tingkat RW. Selama ini, Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta dinilai hanya memberikan imbauan tanpa menyediakan fasilitas yang memadai.
"Kita tidak bisa menuntut keterlibatan masyarakat, tapi sarana-prasarananya tidak kita siapkan dengan baik," ujar Judistira dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).
Di sisi lain, Pansus juga menyoroti pentingnya penegakan hukum secara konsisten terhadap Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang perubahan atas Perda Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. Judistira menekankan perlunya sanksi tegas bagi sektor-sektor yang belum mengelola sampah secara mandiri, termasuk area pasar yang dikelola oleh BUMD Pasar Jaya.
"Jadi, sinergi antarinstansi dan BUMD seperti PD Pasar Jaya harus berjalan dalam satu visi yang sama mulai mengelola sampah secara mandiri," tegasnya.
Sementara itu, dari sisi teknologi, Pansus mengkaji sejumlah opsi terbarukan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik Jakarta. Beberapa di antaranya adalah Waste to Energy atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), Refuse Derived Fuel (RDF), serta pengolahan biologis seperti budidaya maggot dan pengomposan.
Judistira mengungkapkan bahwa pemilihan teknologi yang tepat dapat mendorong terciptanya ekosistem ekonomi sirkular di Jakarta. Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang sebagai sumber masalah, melainkan sebagai komoditas yang memiliki nilai jual.
"Sampah berubah dari beban menjadi berkah yang bernilai ekonomis," katanya.
Selain itu, Pansus akan fokus pada pembenahan manajemen armada kendaraan pengangkut sampah. Banyak armada yang dinilai sudah tidak layak beroperasi, sehingga perbaikan di sektor ini dinilai krusial.
"Hal ini krusial karena sudah banyak sekali menerima keluhan-keluhan langsung masyarakat," pungkas Judistira.
Artikel Terkait
Fadli Zon Bahas Revitalisasi Museum dan Cagar Budaya Bersama Dewan Penyantun
Poltracking: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Kebijakan Paling Dirasakan Manfaatnya oleh Publik
Menteri Haji Inspeksi Dapur Katering di Madinah, Dorong Produk Indonesia Masuk Rantai Pasok Jamaah
Kakorlantas Tinjau Titik Rawan Pelanggaran di Jakarta, Operasi Patuh 2026 Perbanyak Tilang Manual