Menteri Haji Inspeksi Dapur Katering di Madinah, Dorong Produk Indonesia Masuk Rantai Pasok Jamaah

- Kamis, 04 Juni 2026 | 16:40 WIB
Menteri Haji Inspeksi Dapur Katering di Madinah, Dorong Produk Indonesia Masuk Rantai Pasok Jamaah

Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, bersama Tim Amirul Hajj melakukan inspeksi mendadak ke dua dapur katering yang bertanggung jawab menyediakan konsumsi bagi jamaah haji Indonesia di Madinah, Arab Saudi. Langkah ini diambil untuk memastikan kualitas layanan makanan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi produk pangan dalam negeri untuk menembus rantai pasok katering haji di negara tersebut.

Kedua dapur yang dikunjungi merupakan bagian dari belasan fasilitas yang setiap hari memproduksi makanan bagi ribuan jamaah Indonesia. Dalam kunjungan itu, Menteri yang akrab disapa Gus Irfan tersebut memastikan bahwa seluruh proses pengolahan makanan telah memenuhi standar kebersihan, kesehatan, dan keamanan pangan yang ketat.

“Kami ingin memastikan bahwa dapur-dapur yang melayani jamaah Indonesia bekerja dengan baik, bersih, sehat, dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah,” ujarnya saat berada di dapur Uhud Taibah, Madinah, pada Kamis (4/6/2026).

Di luar aspek pengawasan mutu, kunjungan ini juga menyoroti potensi besar substitusi bahan baku impor dengan produk Indonesia. Gus Irfan mengamati sejumlah bahan pangan yang digunakan di dapur tersebut memiliki kemiripan dengan komoditas unggulan dalam negeri, seperti santan, ikan patin, ikan teri, hingga aneka bumbu masakan Nusantara.

“Saya melihat ada santan yang kemungkinan besar bahan bakunya berasal dari Indonesia, tetapi dipasarkan melalui negara lain. Begitu juga ikan patin yang saat ini dipasok dari negara tetangga, padahal Indonesia memiliki potensi produksi yang sangat besar,” ungkapnya.

Pemerintah sebenarnya telah menjajaki pengiriman berbagai komoditas pangan Indonesia ke Arab Saudi, termasuk beras dan bumbu masakan. Namun, upaya itu belum berjalan optimal akibat situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi jalur distribusi dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan.

“Kami sudah mulai mencoba mengirim beras dan berbagai bumbu dari Indonesia. Namun karena situasi kawasan yang belum sepenuhnya kondusif, biaya transportasi menjadi tinggi sehingga tidak semua rencana pengiriman dapat terlaksana,” jelasnya.

Gus Irfan berharap kondisi kawasan Timur Tengah segera membaik agar distribusi logistik kembali normal. Dengan demikian, produk-produk Indonesia dapat lebih mudah masuk ke pasar Arab Saudi, khususnya untuk memenuhi kebutuhan katering haji yang volumenya sangat besar.

Menurutnya, peluang bagi pelaku usaha nasional untuk memasok kebutuhan konsumsi jamaah haji terbuka sangat lebar. Berbagai komoditas yang saat ini digunakan dalam katering, seperti ikan teri, asam jawa, santan, hingga ikan patin, merupakan produk yang mampu diproduksi Indonesia dengan kualitas bersaing.

“Peluangnya sangat besar. Produk-produk yang dibutuhkan sebenarnya banyak tersedia di Indonesia. Tinggal bagaimana kita memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku agar produk tersebut bisa masuk ke Arab Saudi,” katanya.

Ke depan, Kementerian Haji dan Umrah berencana mendorong penggunaan produk Indonesia melalui skema kerja sama dengan penyedia katering. Salah satu langkah konkret yang dipertimbangkan adalah memasukkan klausul penggunaan komoditas tertentu ke dalam kontrak layanan konsumsi jamaah.

“Dalam kontrak ke depan, kita bisa mengatur penggunaan sejumlah bahan baku dari Indonesia. Dengan begitu, produk Indonesia memiliki kepastian pasar dan dapat menjadi bagian dari rantai pasok konsumsi haji,” ujarnya.

Gus Irfan menegaskan bahwa upaya ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas layanan konsumsi jamaah, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi pelaku usaha dalam negeri. Ia melihat penyelenggaraan haji tidak semata-mata sebagai pelayanan ibadah, melainkan juga pintu masuk untuk memperkuat ekosistem ekonomi Indonesia di tingkat global.

“Kita ingin jamaah mendapatkan makanan yang sesuai dengan selera Indonesia, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi bagi petani, nelayan, UMKM, dan pelaku usaha dalam negeri. Haji tidak hanya menjadi pelayanan ibadah, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk penguatan ekosistem ekonomi Indonesia di tingkat global,” pungkasnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar