Pertamina memaparkan strategi pengamanan energi nasional dengan mengoptimalkan sumber daya domestik, meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas), menekan impor energi, serta mengembangkan bisnis rendah karbon secara berkelanjutan. Langkah ini disampaikan Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, di hadapan puluhan mahasiswa dalam sesi Students Meet The Global Executives pada ajang IPA Convex 2026, yang berlangsung pada 20 hingga 22 Mei 2026 di ICE BSD, Tangerang.
Dalam pameran hulu migas terbesar di Indonesia tersebut, Emma mengemukakan bahwa tantangan geopolitik global dan posisi Indonesia sebagai negara net importir energi menjadi perhatian utama dalam menjaga ketahanan energi nasional. Ia menegaskan bahwa kondisi ini merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam kurun waktu empat hingga lima tahun ke depan sesuai mandat presiden.
"Ini adalah pekerjaan rumah kita. Juga menjadi pekerjaan rumah Indonesia, mengenai bagaimana ketahanan energi menjadi target kita, bahkan dalam 4-5 tahun ke depan sesuai mandat Presiden," ujar Emma.
Menurutnya, strategi utama Pertamina dalam beberapa tahun mendatang adalah mengoptimalkan sumber daya domestik melalui peningkatan produksi dan lifting migas nasional. Upaya tersebut dilakukan dengan penerapan teknologi, penguatan kemitraan strategis, serta mendorong dukungan fiskal dari pemerintah guna menarik lebih banyak investor untuk mempercepat eksplorasi dan eksploitasi migas.
"Hal yang penting adalah bagaimana menciptakan lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan keekonomian proyek, kelayakan proyek, dan meyakinkan Pemerintah untuk menyediakan semacam skema dan insentif fiskal yang baik bagi proyek guna mempercepat produksi dan lifting," jelasnya.
Emma menjelaskan, Pertamina saat ini menjalankan dua pilar utama strategi bisnis, yaitu mengoptimalkan bisnis eksisting berbasis energi fosil serta mempercepat pengembangan bisnis rendah karbon. Meski demikian, sebagian besar alokasi investasi perusahaan masih difokuskan pada sektor hulu migas untuk menjaga produksi nasional.
Di sektor hilir, Pertamina terus menjalankan berbagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor produk olahan, termasuk mendukung program mandatori biodiesel nasional. Setelah implementasi B40, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan menuju B50 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain itu, Pertamina melakukan revamping kilang untuk meningkatkan kapasitas produksi energi yang lebih ramah lingkungan, termasuk pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis used cooking oil atau minyak jelantah melalui skema co-processing di kilang dan rencana pembangunan biorefinery baru.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan bahwa kehadiran direksi Pertamina di sesi Students Meet merupakan salah satu bukti perusahaan memandang mahasiswa sebagai pemangku kepentingan yang penting. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dipandang sebagai generasi penerus di masa depan, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan di masyarakat.
"Mahasiswa tidak hanya dipandang sebagai generasi penerus di masa depan, namun mahasiswa juga dapat menjadi agen perubahan di masyarakat. Dengan informasi dan pemahaman yang mereka miliki, mahasiswa dapat menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi bangsa," jelas Baron.
Pertamina, menurut Baron, juga memiliki program pengenalan bisnis migas kepada mahasiswa melalui program Pertamina Goes To Campus (PGTC), Beasiswa Sobat Bumi, dan PF Muda. Setiap tahun, perusahaan melakukan edukasi proses bisnis melalui kunjungan ke beberapa kampus di Indonesia, sekaligus mendorong inovasi dan gerakan sosial berkelanjutan.
"Dengan kondisi geopolitik saat ini, yang juga terasa pengaruhnya ke Indonesia, Pertamina mengajak mahasiswa menjadi aktor penting dalam menjaga ketahanan energi bangsa. Melalui berbagai program bagi mahasiswa, Pertamina berharap generasi muda tidak hanya memahami, namun juga melakukan aksi nyata salah satunya melalui bijak menggunakan energi," tutup Baron.
Artikel Terkait
WHO Tetapkan Wabah Ebola Strain Bundibugyo di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Global
Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II 2026 di Jambi, Kolaborasi Polri-Swasta Capai 569 Hektar Lahan Binaan
Pemukul Pengemudi di Cibubur-Cileungsi Jadi Tersangka, Terancam 2,5 Tahun Penjara
Kemenpar Siapkan Diskon Tiket dan Insentif Pajak untuk Jaga Pariwisata di Tengah Konflik Timur Tengah