Kemenpar Siapkan Diskon Tiket dan Insentif Pajak untuk Jaga Pariwisata di Tengah Konflik Timur Tengah

- Kamis, 21 Mei 2026 | 12:20 WIB
Kemenpar Siapkan Diskon Tiket dan Insentif Pajak untuk Jaga Pariwisata di Tengah Konflik Timur Tengah

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengambil sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata nasional di tengah tekanan konflik geopolitik Timur Tengah yang mulai menggerus kunjungan wisatawan mancanegara. Ketegangan di kawasan tersebut tidak hanya menutup sejumlah jalur penerbangan, tetapi juga memicu lonjakan harga avtur yang berujung pada kenaikan biaya perjalanan secara signifikan.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengungkapkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Salah satu respons cepat yang disiapkan adalah memberikan insentif berupa diskon tiket pesawat kelas ekonomi serta pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung negara. “Kami bekerja sama dengan kementerian lainnya untuk memberikan insentif, diskon pesawat kelas ekonomi. PPN-nya ditanggung pemerintah seperti yang kita sudah bahas bersama, juga diskon atau pembebasan biaya masuk,” ujarnya usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026, Rabu (20/5/2026).

Langkah ini dinilai strategis untuk menekan beban biaya perjalanan yang terus merangkak naik. Menurut Widiyanti, insentif tersebut tidak hanya meringankan ongkos wisatawan, tetapi juga membantu industri penerbangan yang terdampak langsung oleh kenaikan harga bahan bakar. “Sehingga dapat membantu industri penerbang juga sedikit meredam peningkatan biaya. Jadi membantu wisatawan agar lebih murah berangkatnya,” jelasnya.

Di sisi lain, Kemenpar juga mulai menyusun strategi untuk menyiasati potensi kekosongan kunjungan dari wisatawan Timur Tengah akibat penutupan jalur udara. Widiyanti menekankan pentingnya mengalihkan fokus ke segmen wisatawan premium yang relatif tidak terpengaruh oleh fluktuasi biaya perjalanan. “Kita harus siasati bagaimana mengisi kekosongan kunjungan wisman Middle East yang ditutup. Tapi juga kita mulai menyusun strategi untuk wisatawan premium yang tidak terdampak oleh peningkatan biaya,” ungkapnya.

Seluruh upaya ini, menurut Widiyanti, merupakan bagian dari strategi besar mempertahankan devisa pariwisata Indonesia. Ia menegaskan bahwa kekayaan alam dan budaya Nusantara tetap menjadi daya tarik utama yang tidak bisa diabaikan oleh pasar global. “Indonesia ini sangat kaya dan indah sekali dan banyak yang menanti karena sekarang mereka ingin experience, bukan hanya melihat di situs atau pantai dan gunung, tapi juga bagaimana bisa bertemu dengan orang-orang komunitas di Indonesia yang sangat terkenal, masyarakatnya sangat ramah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tren pariwisata global saat ini tidak lagi sekadar mengunjungi tempat, melainkan mencari pengalaman otentik yang melibatkan interaksi dengan komunitas lokal. Hal ini menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk tetap kompetitif di tengah ketidakpastian geopolitik yang melanda dunia.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar