Peneliti Senior BRIN Usia 68 Tahun Raih IPK 3,98 di Program Magister UGM

- Kamis, 21 Mei 2026 | 12:50 WIB
Peneliti Senior BRIN Usia 68 Tahun Raih IPK 3,98 di Program Magister UGM

Di usianya yang ke-68 tahun, seorang peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menuntaskan studi magister di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan prestasi akademik yang gemilang. Djoko Slamet Pudjorahardjo, periset di Pusat Riset Teknologi Akselerator (PRTA) Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), menyelesaikan program Magister Teknik Fisika hanya dalam waktu satu tahun 11 bulan 29 hari. Ia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,98 dengan tesis berjudul “Analisis Desain Sumber Ion Tipe Multicusp untuk Siklotron 30 MeV.” Prosesi wisuda program pascasarjana tersebut digelar pada 22 hingga 23 April 2026.

Keputusan Djoko untuk kembali ke bangku kuliah bukanlah tanpa alasan. Ia mengaku terdorong oleh keinginan kuat untuk terus meningkatkan kompetensi diri, yang sejalan dengan dukungan penuh dari institusi tempatnya bekerja. “Saya termotivasi melanjutkan studi mengambil gelar magister di UGM karena saya berdomisili dan bekerja di Yogyakarta, kemudian ada kesempatan peningkatan kompetensi SDM dari tempat saya bekerja melalui program Degree by Research,” ujarnya.

Pilihan program studi yang diambilnya pun dinilai sangat relevan dengan tugas kesehariannya. Sebagai peneliti yang bergelut di bidang teknologi akselerator atau pemercepat partikel, Djoko menilai Program Studi Magister Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM memiliki kesesuaian yang erat dengan lingkup pekerjaannya. “Karena bidang pekerjaan saya berkaitan dengan teknik fisika, maka saya memilih melanjutkan studi Magister Teknik Fisika,” tuturnya.

Di balik pencapaian tersebut, perjalanan akademik Djoko tidak sepenuhnya mulus. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya selama perkuliahan adalah pesatnya perkembangan teknologi informasi, khususnya dalam sistem pembelajaran digital yang diterapkan di lingkungan kampus. “Tantangan selama studi di UGM adalah mahasiswa harus familiar dengan teknologi informasi yang digunakan di UGM, sehingga kadang saya merasa gaptek bila dibandingkan dengan mahasiswa lainnya yang rata-rata usianya lebih muda dari saya,” katanya.

Beberapa mata kuliah bahkan mewajibkan mahasiswa untuk menguasai bahasa pemrograman dan berbagai aplikasi guna menyelesaikan tugas akademik. Meskipun demikian, Djoko tidak menyerah. Ia terus berupaya beradaptasi dan mengikuti perkembangan teknologi agar dapat menyelesaikan studinya dengan baik. Ia pun mengaku mendapatkan banyak bantuan dari rekan-rekan mahasiswa yang lebih muda. “Mereka sangat menghormati mahasiswa senior. Kalau saya mengalami kesulitan, biasanya mereka dengan senang hati membantu,” ungkapnya.

Menjelang masa purna tugas, Djoko justru menjadikan pendidikan sebagai medium untuk membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal usia. “Di usia saya yang sudah tidak muda dan hampir purna tugas, saya terdorong untuk bisa menyelesaikan studi dalam waktu yang ditentukan dan membuktikan bahwa saya masih bisa meningkatkan kompetensi melalui studi lanjutan,” ujarnya.

Keberhasilan menyelesaikan pendidikan magister ini memiliki makna yang mendalam bagi Djoko. Selain menjadi capaian akademik pribadi, kelulusan tersebut ia anggap sebagai hadiah istimewa menjelang masa pensiun. “Kelulusan ini merupakan hadiah besar menjelang purna tugas saya. Ini juga menjadi bukti bahwa saya telah berusaha memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan institusi untuk kuliah lagi,” katanya.

Djoko pun menyampaikan pesan kepada generasi muda dan para mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan agar senantiasa menjaga semangat belajar serta percaya pada kemampuan diri sendiri. “Studi harus dijalani dengan penuh semangat, bersungguh-sungguh, dan percaya diri bahwa kita bisa menyelesaikan program studi tepat waktu,” pesannya. Menurutnya, usia bukanlah penghalang untuk terus menuntut ilmu selama masih ada kemauan dan kemampuan untuk belajar. “Menuntut ilmu tidak terbatas oleh usia, selama kita masih mampu melaksanakannya,” pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar